KUMBANG
  • WpView
    Reads 29
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 27, 2017
Karamelia Aristi yang sering disapa melia. Arman barsyah yang sering disapa arman. Mungkin memang sulit untuk Melia melupakan kenangan masa kecilnya bersama Arman. Melia benar-benar tidak habis pikir dengan sifat Arman yang sekarang. Karena menurutnya Arman yang dulu dengan yang sekarang benar-benar berbeda. Melia benar-benar rindu dengan kumbang kecilnya itu, melia rindu dengan semua kesenangan dan kegembiraan yang dulu terjadi. Semakin dia ingin melupakan kenangan itu, malah membuat kenangan itu terus bermunculan di pikirannya.
(CC) Attrib. NonCommercial
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Ibu Susu untuk Bayi Gaib
  • PENA ASMARA | TAMAT✅
  • Surat Untuk Jenaka (Complete)
  • I Fellin Love With a Criminal [END √]
  • Bukan Pernikahan Impian(TAMAT)
  • RENJANA⚜ ✔
  • neyquanza {End}
  • Derita Asmara Tiga Hati (DATH)
  • SERPIHAN MASA LALU (SLOW UPDATE)

Sebuah kisah gelap tentang ambisi memiliki keturunan. Tini, ibu muda berusia 19 tahun, terpaksa menerima tawaran menjadi ibu susu di rumah Joglo mewah milik Nyonya Arini. Keputusan yang akan mengubah hidupnya selamanya. Di balik kemegahan ukiran kayu jati dan aroma melati yang memabukkan, tersimpan rahasia kelam tentang keluarga ningrat yang terobsesi memiliki keturunan. Saat Tini menyadari bahwa bayi yang harus disusuinya tak seperti bayi pada umumnya, ia sudah terlanjur terikat kontrak mistis yang tak bisa dibatalkan. Kisah horor Jawa ini akan membawa pembaca menyusuri lorong-lorong gelap rumah Joglo, menghadapi pertanyaan mengganggu tentang makna keibuan, dan harga yang harus dibayar untuk memenuhi tuntutan masyarakat akan kehadiran seorang anak. --- "Setiap wanita memiliki lukanya sendiri. Jangan tambah dalam dengan pertanyaan yang tak perlu, kapan punya anak?" Sebuah pengingat bahwa di balik senyum sopan dan jawaban klise "belum rejeki" dari mereka yang belum dikaruniai anak, mungkin tersimpan kepedihan dan pergulatan batin yang tak pernah kita pahami. Novel ini mengajak kita merefleksikan kembali sensitivitas dalam berinteraksi dengan sesama, terutama terkait isu kesuburan dan keibuan yang begitu personal. Dilarang menjiplak, mengambil sebagian scene ataupun membuatnya dalam bentuk tulisan lain ataupun video tanpa izin penulis. Jika melihat novel ini diplagiat, tolong lapor ke Ig/fb: @hayisaaaroon. Terima kasih, selamat membaca, semoga menghibur dan bermanfaat.

More details
WpActionLinkContent Guidelines