ORIXA
  • WpView
    Reads 1,454
  • WpVote
    Votes 97
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jun 1, 2018
Bila Halexa adalah siang, maka Orion adalah malam. Bila Halexa adalah putih, maka Orion adalah hitam. Dan bila Halexa adalah kiri, maka Orion adalah kanan. Mereka berdua jelas berbeda--sangat bertolak belakang. Mereka terlihat seperti sepasang orang yang saling membenci, namun nyatanya juga melengkapi. Mereka adalah sepasang orang yang tiada hari tanpa saling memaki, namun jauh di lubuk hati ... mereka sebenarnya peduli. Rasa tumbuh karena terbiasa, begitu pepatah berkata. Namun sebagian orang berusaha menolak dikarenakan gengsi semata. Layaknya otak dan hati, Halexa dan Orion terhubung oleh benang tipis yang tanpa sadar telah mengikat keduanya. Sederhana saja. Maka Halexa bukanlah Halexa tanpa kehadiran Orion. Dan Orion bukanlah Orion tanpa adanya Halexa. [CERITA INI MURNI HASIL KARYA AUTHOR SENDIRI. TIDAK ADA UNSUR PLAGIAT] Copyright © by Ardya Sinta
All Rights Reserved
#841
challenge
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • BUNGA KEMBALI
  • Perihal Hati
  • Look At Me!!!                                            [Follow Sblm Membaca❤]
  • ABIAN HALA
  • ORBIT
  • pacarnya anak osis[END✔️]
  • Wanderer Friendship (Just A Friend Until The End) 18+
  • Serba Serbi Urusan Hati
  • Be My Miracle Love [End] ✔

Mereka adalah saudara, mereka mencintai perempuan yang sama Malam itu, hujan turun dengan derasnya, membasahi jalanan yang sepi. Di balik jendela kamar yang temaram, seorang gadis duduk bersandar, matanya menatap kosong ke arah langit kelabu. Napasnya berat, pikirannya penuh. Hujan seakan mengerti perasaannya-dingin, gelisah, dan penuh ketidakpastian. Jauh di sudut kota, seorang pria berdiri di depan pintu apartemen, ragu untuk mengetuk. Tangannya mengepal, menggenggam sesuatu yang tak kasatmata-sebuah harapan, atau mungkin sekadar kenangan yang enggan ia lepaskan. Dulu, segalanya terasa sederhana. Kini, hanya ada jarak, kebisuan, dan perasaan yang tak lagi bisa mereka definisikan. Di tempat lain, seorang lelaki menatap bayangannya sendiri di cermin. Mata yang dulu penuh gairah kini menyimpan kehampaan. Cinta yang ia genggam dulu, kini terasa seperti pasir yang perlahan menghilang di antara jemarinya. Mereka bertiga, terikat oleh kisah yang tak pernah sederhana. Cinta, kehilangan, pengorbanan-semua bercampur menjadi satu dalam kisah ini. Dan malam ini, takdir mulai menuliskan babak terakhirnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines