Guardian Of Texon [ Slow Update ]

Guardian Of Texon [ Slow Update ]

  • WpView
    Reads 187
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 11, 2018
WpInfo
Fiction
Fantasy
Kenanga gadis yang memiliki perbedaan dalam dirinya. Dikucilkan oleh teman-temannya, bahkan dibenci oleh adiknya sendiri. Tidak ada yang mau berteman dengannya, bahkan hanya untuk menjadi teman sebangku. Semuanya mulai berubah saat dia mulai bermimpi bertemu dengan ayahnya, memiliki teman sebangku untuk pertama kalinya, hingga rahasia yang selama ini tidak diketahuinya tentang siapa diarinya sebenarnya. Kisah petualangan Kenanga dimulai saat adiknya diculik oleh orang asing yang memiliki ciri-ciri seperti ayahnya. Warna kulit biru, mata hijau, dan rambut coklat. Kenanga bertekad untuk datang ke dimensi lain, dimensi ayahnya, untuk menyelamatkan adiknya. Akankah Kenanga berhasil menyelamatkan adiknya? Akankah Kenanga mau menerima takdir yang sudah menunggunya di dimensi lain? Takdir yang sebenarnya menjadi alasan diculiknya adiknya. Sanggupkah dia?
All Rights Reserved
#81
dimensilain
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Princess of Perseus
  • Unseen [SELESAI] || PJS
  • Kembar Berbeda [TERBIT]
  • K e [y] n a [n]. [COMPLETED]
  • QUERENCIA ✔️
  • {Revision} Save Our Dimension : Protect The World from Destruction
  • Codex Trigger
  • Mesin Waktu [TAMAT]
  • INFINITY JOURNEY
  • Perihal Dia Dengan Sejuta Tawa (END)

Aula Aetherium bergema oleh napas lega, panji-panji tua menggantung seperti saksi bisu di atas sosok berlutut yang namanya telah berlari mendahului kebenaran, dan aku berdiri di antara mereka, menyaksikan para pemegang kuasa dan mereka yang percaya mengukuhkan keyakinan menjadi perayaan, seolah ketakutan dapat diakhiri dengan memenggal seorang manusia. Ketika algojo mengangkat pedangnya dan sebuah suara berbisik, "Dialah yang akan mengakhiri dunia ini," kata-kata itu jatuh ke dadaku bukan sebagai keadilan, melainkan sebagai restu untuk berhenti bertanya. Aku telah membaca lembar demi lembar masa lalu, menautkan jejak yang terserak, mengikuti kisah itu hingga semuanya menunjuk ke titik ini, namun pada saat sorak membumbung dan bilah pedang tertahan di udara, yang kurasakan hanyalah sunyi yang ganjil, kehampaan yang dingin, seakan kebenaran telah melintas pergi sementara kami sibuk menyepakati wujudnya. Lelaki itu tak menyerupai akhir, ia lebih tampak seperti jawaban yang disusun dengan rapi agar tak ada lagi pertanyaan yang perlu diselamatkan, dan ketika kerumunan menuntut darah, aku terlambat menyadari bahwa Aetheria masih runtuh di bawah keyakinan kami sendiri. Sebab apa pun yang benar-benar mematahkan dunia ini tak pernah berlutut di hadapan kami. Ia berdiri tanpa nama di antara sorak-sorai, tenang, tak terlihat, dan menang. Dan baru kelak kami mengerti, hari itu bukanlah awal keselamatan, melainkan saat ketika sesuatu yang jauh lebih sunyi akhirnya dibiarkan bebas.

More details
WpActionLinkContent Guidelines