Lavatera [completed]

Lavatera [completed]

  • WpView
    Reads 11,119
  • WpVote
    Votes 937
  • WpPart
    Parts 43
WpMetadataReadComplete Sun, Aug 2, 2020
Kehidupan Lavatera tidak pernah sama dengan remaja lainnya. Meski ia cantik luar biasa, emosi dan karakternya yang kompleks tidak pernah cocok untuk berteman, menjadi pemimpin grup, ataupun menjadi pacar seseorang. Tekadnya untuk hidup sendiri seumur hidupnya terganggu saat ia diharuskan Papanya untuk kembali ke Indonesia dan menjalani kehidupan sekolah biasa, sementara identitasnya sebagai pemimpin vocal group terkenal dan anak seorang duda konglomerat harus ditutupi dengan make up, kepang, kacamata dan sebuah nama: Tera. ***
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Setala Gema
  • The Fifth Taste
  • MARVELLA QISYA [ End ]
  • Promise
  • LAVANYA
  • RAKASYA [TERBIT]
  • Troublemaker (Tamat)
  • Enchanted Letters
  • MOON GRAVITY (Completed Edit)
  • The Girl I Met That Day

"Kalau mau minta wawancara khusus apalagi minta putus ...." Jeda sesaat. Ilyas tersenyum menatap lawan bicaranya. "Syaratnya, kita harus kencan seharian. Masa, selama jadian kita nggak pernah jalan? Padahal kamu yang nembak, biarpun kamu sering pura-pura amnesia." Gara-gara ulah sahabat yang memakai nama dan telepon genggamnya untuk menyatakan cinta kepada seorang idola, Inara yang kena getahnya: ia terpaksa jadian dengan vokalis songong itu! Padahal, jurnalis remaja itu sudah jatuh hati kepada suara muazin yang kerap didengarnya setiap Sabtu malam ataupun Minggu subuh. Kalau boleh membandingkan, suara Ilyas yang seperti kaleng rombeng itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan suara muazin yang ia idolakan. Jauuuh sekali. Terlebih, dalam bayangan Inara, pemilik suara semerdu dan semenenangkan itu pasti tak hanya sekadar tampan sebagaimana Ilyas yang hanya bermodal 'bisa bikin cewek-cewek mimisan'. Bukan pula om-om, bapak-bapak, atau bahkan kakek-kakek seperti dugaan sahabatnya. Mungkin, Inara lupa sesuatu. Bukankah vokalis dan muazin sama-sama berurusan dengan suara?

More details
WpActionLinkContent Guidelines