Story cover for The physchopath doctor by queenwordls
The physchopath doctor
  • WpView
    Reads 1,006,166
  • WpVote
    Votes 45,872
  • WpPart
    Parts 22
  • WpView
    Reads 1,006,166
  • WpVote
    Votes 45,872
  • WpPart
    Parts 22
Complete, First published Oct 01, 2017
warning : belum di revisi, masih banyak pleonasme, kata kata alay. 

Seorang anak kecil sedang bercerita dengan temannya tentang impian mereka. 

Impian salah satu dari mereka. 

"Kalau aku, ingin punya pacal yang pocecif sama aku" 

15 tahun kemudian..... 

"Kamu gak boleh keluar dari kamar kita selama aku masih kerja" blam.... 

Aku menyesal pernah meminta impian seperti itu. 

~andila~
All Rights Reserved
Sign up to add The physchopath doctor to your library and receive updates
or
#62bossy
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
HOT DADDY 1 (TAMAT) cover
dr.Richard  cover
RAIN [hiatus] cover
The Most Love cover
posessif boyfriend cover
ARSEN [TAMAT] cover
LITTLE GIRL [END] cover
Back To Past? cover
Ketua Cengeng cover
POSESSIVE ARVIN [GS 2] cover

HOT DADDY 1 (TAMAT)

57 parts Complete Mature

WARNING!! 21+ "Besok umur mu sudah 6 tahun, sayang. Apa yang kamu inginkan dari Daddy?" Edwin berjongkok di depan putra kebanggaannya. Miko, anak laki-laki itu menatap Daddy nya malas. Dia meletakkan heandpone mahal yang Daddy nya belikan sewaktu dia berulang tahun yang ke 5 dulu. "Tentu bukan robot yang bisa berjalan, ataupun liburan ke luar negeri." Jawab Miko, dingin. "Lalu?" Edwin menautkan kedua alisnya, pertanda bahwa dia tidak mengerti dengan ucapan putranya. "Bisakah Daddy memberikan aku seorang ibu? Aku ingin seperti teman-teman ku yang ketika berangkat dan pulang sekolah di jemput oleh kedua orang tuanya." Miko menatap Edwin dengan tatapan memohon. "Kenapa diam? Sudah aku tebak, Daddy tidak bisa mengabulkan permintaan ku itu. Tapi kenapa? Apa karena aku nakal? Apa karena nilai ku matematik jelek? Aku bisa perbaiki itu, Dad." Kali ini Miko benar-benar menangis. "Maafkan Daddy, sayang. Daddy..." Miko berlari ke kamarnya. Sedangkan Edwin tertunduk di depan ruang keluarga. Sudah sekian kali anaknya meminta seorang ibu. Namun dirinya masih tidak bisa memberikannya.