HIDDEN
  • WpView
    Reads 166
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Oct 4, 2017
perempuan berkaca mata bulat itu menatap langit dengan mata menyipit karena silauan matahari yang memang sangat berkilat di urungkan niatnya untuk menatap langit setetes keringat muncul di sela pelipis diusapnya keringat itu dengan lengan tangannya karena kedua tangannya membawa sebuah kantong kresek yang besar tak lupa pula tas ransel di punggungnya banyak orang yang berlalu lalang di tepi jalan tak sedikitpun orang menatap perempuan berkaca mata itu dengan pandangan ingin tertawa "apa ada yang salah denganku"ujar perempuan itu pada dirinya sendiri perempuan itu berbalik arah dan tepat disana jendela kaca sebuah toko terpampang nyata wanita itu syock karena melihat apa yang salah di dirinya "OHh TIDAK...!!!!"teriaknyaaa perempuan itu syock bahwa pada wajahnya banyak sekali goresan spedol berwarna hitam yang membuat penampilannya semakin kacauuuu "ini semua gara gara anak bossnya"gumamnya Bagaimana jika rara cantika harus menjadi seorang istri bossnya yang duda beranak satu yang sangat tampan dikarenakan anak bossnya itu "Kamu harus menjadi istriku merawat rica seperti anakmu."SAMUEL ABRAHAM(30) "Kamu mamaku."RICA ANGEL ABRAHAM(4) "Kenapa harus aku yang kalian pilih." RARA CANTIKA(23)
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • RIRI NATARI [END]
  • ALA
  • Aksara Lingga
  • I AM PREGNANT  (OPEN PO)
  • SYAKIRA how are you?
  • A. Y. T. D. A (ANAK YANG TAK DIANGGAP)
  • Hate Me Past, Not Now
  • SAD GHOST 6 ✓

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines