Our Struggle

Our Struggle

  • WpView
    Reads 861
  • WpVote
    Votes 107
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Aug 2, 2020
(REMAKE) Hidup itu dipenuhi dengan sebuah pilihan. Jika ada yang namanya kebahagiaan disitu juga ada kesedihan. Manusia hanya mempunyai dua pilihan atas apapun itu. Namun saat mereka memilih pilihan yang salah. Tanpa tahu diri, mereka malah menyalahkan tuhan atas kesalahan mereka sendiri. Saat sebagian orang memilih untuk menyerah menghadapi semua rintangan, terkecuali seorang gadis yang tak terima kesedihannya itu berakhir menyedihkan tanpa adanya kebahagiaan sebagai imbalan dari semua aliran air matanya. . . . . . . "until everything demands that I should end all my struggles, including love." Nastashya Ramadhani.
All Rights Reserved
#126
fakefriends
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Trust
  • 30 Hari Menuju Kematian [✓]
  • Hai, Angkasa! [COMPLETED]
  • Ali Arkhan
  • Aku Menyerah (COMPLETED)
  • Bad Boys VS pembasmi playboy [Compeleted]
  • ANANDITASWARA [TERBIT]
  • sorry (COMPLETE✔✔)
  • INFINITY
Trust

Hidupnya indah, pada masanya. Satu masalah datang membuatnya bertransformasi menjadi dia yang lain, yang tak dikenal dan tak mau dikenal. Hidupnya berubah hitam, monoton, tak bergairah. Namun, ketika muncul setitik harapan cerah yang datang untuk membantunya kembali bangkit, hal lain muncul. Ragu itu muncul ketika harus dihadapkan pada kata percaya. Percaya untuk percaya dengan ketulusannya, atau tidak percaya karena banyak asumsi buruk yang berputar di kepalanya. Bagaimana jika ketulusan itu hanyalah kepalsuan? Ketika ia percaya, hanyalah penyesalan yang tercipta. Namun, bagaimana jika sebaliknya, ketulusan itu benar-benar sebuah ketulusan? Namun, pada kenyataannya ia masih berada di antara keduanya. Berpikir antara ya dan tidak, antara percaya dan tidak percaya. Terpaku pada garis yang sama, dengan satu ragu untuk memilih jalan yang mana. Ia tak mau salah untuk memilih. Lagi. Karena terakhir kali ia percaya, yang dipercayai mengkhianatinya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines