Sampai Kapan Menunggu?

Sampai Kapan Menunggu?

  • WpView
    Reads 1,266
  • WpVote
    Votes 49
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 8, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Hari-hari yang dilewati Veranda kini sangat berbeda. tidakk ada pesan masuk dari pria mana pun selain teman kampusnya yang menanyakan tugas. atau pun rekan kerja bisnisnya yang menanyakan perkembangan penjualan jilbab mereka. Semua tersusun rapih tanpa cela. Bulan demi bulan berlalu, tahun demi tahun terlewati. Veranda tetap teguh dengan janjinya. Seseorang yang di sana pun tentunya begitu. Hingga akhirnya hari yang merupakan jawaban untuk mereka pun telah datang. Gilang telah menyelesaikan studinya di Jakarta, sedangkan Veranda menyelesaikan studinya di Bandung. "Ini waktu untuk aku menepati janjiku." Hati Gilang begitu membuncah bahagia. ia sudah tidak sabar untuk segera pulang ke kampung halamannya. "Sudah Hampir 5 tahun tidak bertemu, masihkah ia menungguku?" "Saling diam, dan saling menjaga dalam heningnya cinta. Perpisahan ini hanyalah sementara, jika aku dan kamu meyakini takdir ini. Kita akan bertemu kembali di hari dan waktu yang tepat. Maukah kamu menungguku? . . . "Berlarilah ketika hatimu telah yakin akan keputusanmu. Aku di sini selalu siap untuk membukakan pintu harapanmu. Sebab aku pun berharap, kau akan menemuiku. Kita saling berharap, dan berdo'a, semoga ridho dari-Nya akan datang tepat diwaktu yang tepat. untuk kita."...
All Rights Reserved
#7
musikalisasipuisi
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Cinta dan Takdir Rania [End]
  • Ustadz Is My Husband
  • Oddly Coupley (Complete)
  • Istri Sah Ikky [B×B]
  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Bulan Berkisah [SUDAH TERBIT]
  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Senja (Diangkat Dari Kisah Nyata)
  • Kapan Aku Pernah Berhenti [completed]

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines