ME vs PD

ME vs PD

  • WpView
    Reads 199
  • WpVote
    Votes 56
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Sep 20, 2018
Hidup ini berat. Menurutnya hidup itu sangat berat. Apalagi untuk wanita seperti dirinya. Punya wajah pas pasan, kulit hitam, pinter juga kagak kebiasaan remed, punya uang kagak, punya temen juga tapi kaya yang nggak punya. Hanya bisa diam. Menampakan wujud didepan umum bagi dirinya sangat menakutkan. Mau tau cerita lanjutannya? Baca yukk!!!. Dan salam kenal semuanya. :) Kalian bakalan tau kenapa dia takut dengan dunia luar.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • FARZAA
  • ONE WORD: HURT ✔️
  • Ice Gril 🌧️ (TAMAT)
  • KEYVARA (Revisi)
  • Psikopat Belati hitam [HIATUS]
  • benih titipan sang CEO🔞[joongdunk]
  • Story of Hanum🍂
  • Self Injury's(complete)✔
  • MY CRAZY HUSBAND (TAMAT)
  • Nikah Muda& Otak Mesum
FARZAA

"Kenapa di nama panggilan lo, huruf 'A' yang terakhirnya ada dua?", kata gadis itu sambil menengok orang yang ditanyanya barusan, yang kini tengah berada di sampingnya. Ia sempat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis yang berada di sampingnya itu. Pasalnya hanya dia yang memerhatikan namanya dan berani bertanya kepadanya. "Ngapain lo mikirin nama gue? Gak penting banget." Jawab Farzaa akhirnya, tanpa melihat ke arah lawan bicaranya. Gue pokoknya harus tahu, guamamnya dalam hati. "Eh iya sih, yang penting kan, kita bisa menghasilkan uang, kita punya uang, dan kita juga bisa menikmati uang kita." gadis itu tertawa sebelum mengucapkan kalimatnya yang baru ia lontarkan. Ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar dari gadis itu barusan, tapi ia bersikap seolah biasa saja dan berkata "Gak semua orang bahagia karena uang. Dan gak seharusnya juga lo terus jadiin seolah-olah uang adalah segalanya dan uang sebagai pemeran utama dalam kehidupan lo". Gue harus ubah cara pikir lo, batinnya. Sebelum gadis itu menjawab, ia melanjutkan perkataannya. "Uang itu salah satunya. Bukan satu-satunya", ia tersenyum dan berbicara setenang mungkin. "Lalu apa?", balasnya dengan gugup setelah mendengar penuturan laki-laki di sampingnya, yang ia sendiri tidak menyangka tanggapannya akan seperti itu. "..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines