Aruna
  • WpView
    Reads 239
  • WpVote
    Votes 15
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 30, 2017
WpInfo
Non-Fiction
Debur ombak merangkak naik ke pangkuan Aruna. Tapi ia memilih untuk tak bergeming, tetap di posisinya, bersimpuh di garis pantai. Isakan mulai meluncur dari mulutnya. Punggung yang semula tegap itu kini tampak bergetar. Dengan mata nanar, ia memandang laut dihadapannya. Di menit selanjutnya ia bangkit. Tungkainya berayun maju. Selangkah. Dua langkah. Di langkah ketiga separuh tubuhnya sudah terendam air laut. Lalu, dengan gerakan tunggal yang anggun, seolah gerakan itu merupakan bagian dari sebuah tarian, ia membenamkan diri ke dalam air laut. Sanggul berhias untaian kuntum bunganya terburai ketika kepalanya masuk ke dalam air. Setelah itu kau tak terlihat lagi. Bahkan setelah cahaya fajar mulai merengkuh lautan pun kau tak muncul lagi ke permukaan.
All Rights Reserved
#216
bunuhdiri
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Puing luka
  • Aura dan Lingkaran Setan
  • Laut menyimpan rahasia ibu
  • Fragmen
  • ARUNA Dalam Diam, Aku Tumbuh
  • Poison Of Love
  • Together for Love
  • Raina
  • Senja Yang Sunyi
  • Terdampar Di Pulau Misterius

"Malam itu menjadi awal dari mimpi buruk yang tak pernah ia bayangkan." Aluna kehilangan segalanya dalam satu malam-rasa aman, harga diri, dan harapan. Ia hancur oleh luka yang tak terlihat mata, tapi mengoyak jiwanya habis-habisan. Kehamilan yang datang dari pemerkosaan membuatnya ingin menyerah. Namun dalam reruntuhan hidupnya, ada dua hal yang terus menahannya agar tetap berdiri: keluarga yang tak pernah berhenti mencintai, dan janin kecil dalam rahimnya yang menjadi alasan untuk bertahan. Sejak itu, Aluna membenci laki-laki. Ketakutannya begitu dalam, hingga setiap tatapan dan suara laki-laki bisa membuat tubuhnya gemetar. Tapi ia tidak bisa menolak kehadiran laki-laki itu-sosok yang bertanggung jawab, yang tak pernah pergi, yang terus mengirim bunga, hadiah, dan surat-surat haru berisi penyesalan serta doa. "Aku tahu aku tak bisa menghapus malam itu. Tapi setiap langkah yang kamu ambil hari ini, adalah langkah keberanian luar biasa. Kamu tidak sendirian." - A. Hari demi hari, tembok kebekuan di hati Aluna mulai retak. Bukan karena dia lupa, bukan karena dia memaafkan dengan mudah, tapi karena perlahan, ia mulai membuka diri terhadap kemungkinan: bahwa tidak semua luka harus berdarah selamanya. Akankah Aluna mampu menghadapi masa lalunya? Mampukah ia membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupnya lagi-meski dari kejauhan? Sebuah kisah tentang luka, keberanian, dan cinta yang lahir dari kehancuran. Untukmu yang sedang berjuang: kamu tidak sendirian.

More details
WpActionLinkContent Guidelines