18 chapitres Terminé Bagaimana jika cinta seperti coding? Ada syntax-nya, ada error-nya, dan kadang... butuh waktu lama untuk compile?
Tsaluna Jazeera tidak pernah berencana jatuh cinta pada seorang programmer. Di dunianya yang penuh warna pink, puisi, dan metafora, cinta seharusnya datang dengan cara yang romantis-bukan dengan suara ketukan keyboard dan aroma kopi yang menguar dari sudut perpustakaan kampus. Namun, Fayriel Daeven, dengan kacamata dan rambut ikalnya yang selalu tertata rapi, telah mengacaukan semua algoritma hatinya.
Tapi bagaimana bisa? Di saat Tsaluna sibuk menulis puisi tentang senja dan rindu, Fayriel tenggelam dalam dunia binary yang hanya mengenal 0 dan 1. Tak ada ruang untuk interpretasi. Tak ada tempat untuk makna tersirat. Yang ada hanya logika dan kepastian-dua hal yang justru tak pernah Tsaluna temukan dalam perasaannya sendiri.
Sementara itu, Dharael, senior jurusan Statiska yang selalu memperhatikannya dari jauh, mungkin lebih memahami 'bahasa' Tsaluna. Ia hadir dengan perhitungan yang tepat, memberikan perhatian dalam diam, menunggu saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi hati tidak pernah bisa diprediksi dengan rumus matematika, bukan? Di tengah kerumitan perasaannya, Tsaluna harus berjuang dengan tugas-tugas kuliah, rindu pada kampung halaman, dan tekanan sebagai mahasiswa perantau. Untunglah ada Nashara yang setia menemani lewat pesan-pesan panjang dan telepon tengah malam, serta Zein-sahabat Fayriel yang senantiasa mengejek Tsaluna dan Fayriel.
"Pink & Binary" adalah kisah tentang bagaimana cinta tidak selalu berbicara dalam bahasa yang sama. Kadang ia datang dalam bentuk error yang tak terpecahkan, atau dalam bait puisi yang tak pernah terkirim. Mungkin, seperti dalam dunia programming, cinta juga butuh proses debug yang panjang sebelum akhirnya bisa running dengan sempurna. Akankah Tsaluna berhasil men-decode hati Fayriel? Atau justru akan menemukan cinta dalam variable yang tak terduga?