I'M SORRY✔

I'M SORRY✔

  • WpView
    Lecturas 129
  • WpVote
    Votos 21
  • WpPart
    Partes 6
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación jue, feb 22, 2018
WpInfo
Ficción
Romance
Di suatu hari ada seorang siswi baru di sekolah Academy Music School yang bernama Ayumi Misaki. Dia seorang anak yang baik hati, pemalu, dan pintar di kelasnya, karena di setiap gurunya menyampaikan pelajaran ia langsung dapat memahaminya. Ayumi juga pandai memainkan berbagai alat musik, seperti piano, biola, dan gitar. Akan tetapi, karena kepintaran Ayumi itu banyak murid yang iri dengannya dan Ayumipun selalu di jahui dan di bully oleh teman-temannya. Di sisi yang lain ada seorang anak pintar, nakal, jahil dan mahir memainkan piano dan bernyanyi yang bernama Kenshin Hamura. Dia adalah salah satu anak yang iri dengan kepintaran Ayumi. Kenshin juga tidak suka dengan kedatangan Ayumi, oleh sebab itu ia selalu menjahili dan membully Ayumi. Tapi, pada suatu hari Kenshin menyadari bahwa perbuatannya kepada Ayumi itu salah. Kapankah itu ... mari kita simak baik-baik cerita antara murid se kelas ini (Ayumi dan Kenshin). NB: Cerita ini terinspirasi dari SILENT VOICE.
Todos los derechos reservados
#22
imsorry
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • INTO IT
  • ↷✦;𝐌𝐲 𝐧𝐞𝐰 𝐥𝐢𝐭𝐭𝐥𝐞 𝐰𝐨𝐫𝐥𝐝|𝐆𝐚𝐤𝐮𝐞𝐧 𝐁𝐚𝐛𝐲𝐬𝐢𝐭𝐭𝐞𝐫❞ [HIAT]
  • The Glasses Girl [END]
  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • Promise
  • DLS [ 2 ] Ansellina
  • Menghitung Hujan (Markhyuck)
  • Perihal Sandwich(End)
  • DJ DREAM:D4DJ
  • EPHEMERAL PRINCESS {END} ✓
INTO IT

Bagi Azelle Claire Hawthorne, setiap orang memiliki cerita. Dan sebagai seorang jurnalis, tugasnya adalah mendengarkan lalu menuliskannya. Sementara bagi seorang hakim muda, setiap cerita harus didengar, dipertimbangkan, lalu diputuskan berdasarkan hukum. Mereka terbiasa memahami kehidupan orang lain. Ironisnya... Mereka justru gagal memahami perasaan mereka sendiri. Di antara kesibukan, rutinitas, dan pertemuan-pertemuan yang awalnya terasa biasa, keduanya perlahan menjadi bagian dari hidup satu sama lain. Tak pernah ada pengakuan. Tak pernah ada kepastian. Karena mereka sama-sama percaya bahwa masih ada waktu. Sampai suatu hari, diam menjadi jawaban yang sama-sama mereka salah artikan. Dan saat mereka akhirnya menyadari apa yang sebenarnya mereka rasakan... Mungkin semuanya sudah terlambat.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido