Hubbun

Hubbun

  • WpView
    Reads 116
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Jan 31, 2018
Telah kusemai benih rasa dalam buaian asmara di bilik kiri dada. Kusirami dengan curahan kasih sayang yang mengalir bersama sejuknya embun fajar. Nyanyian syair penuh rindu terdengar begitu syahdu, mengiringi mekarnya kelopak sang bunga. Kemudian, aku menemukan dirimu begitu layu, tak terurus. Memungut, lantas kupercantik hingga silau netra yang melirik. Melupakan bahwa dibalik cantiknya mawar, tertanam duri-duri yang tajam. Sakit itu terus berlanjut, berawal dari saat satu duri berhasil melukai jari telunjuk. Terlanjur kecewa, kuputuskan untuk menggenggam lebih erat dirimu tanpa peduli seberapa banyak darah menetes perih. Nyatanya aku tetap bertahan. Meski jemariku hancur lebur bersama ilusi. Harapku, disaat penyesalan menyusup ke dalam dadamu mengikat penuh tulang rusuk ringkih itu, yang pertama kali kau ingat adalah aku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Seperti Tulang [SUDAH TERBIT]
  • ARISANDRA [Completed]
  • Istri militer yang cantik! Junye kasar! Tentara Berusia Delapan Puluh
  • ✔ Back to 1977
  • KAIFA HALUKI??
  • (END) The Boss Became My Three-year-old Son
  • SELEPAS KAU PERGI (END)

⚠️ Ditulis oleh: Aksaradin & NS. Sea ⚠️ Tersedia di shopee @ranisalenovel *** Haura Putri Maheswari, perempuan yang dikenal cantik, entah parasnya, maupun bentuk lukanya. Haura tumbuh pada atap sempurna, tapi cacat. Ia diperbolehkan untuk tinggal, meski suasana tampak berbeda dalam sana. Sebab, beberapa orang mungkin tidak akan pernah menganggapnya terlihat. Meskipun begitu, Haura tetap ingin bersama keluarganya. Tidak ada yang baik-baik saja, hari-hari terasa seperti berjalan pada kegelapan. Memasuki dunia yang di mana hanya ada luka dan air mata. Hidup tidak selamanya berisi kebahagiaan, memang. Luka, duka, pilu, dan rasa sedih akan selalu bertandang tanpa henti. Bahkan, tidak semua orang mampu bertahan hingga akhir. Ada yang memilih memutuskan jalannya sendiri, memilih mengutuk diri atas kelahiran, dan ada yang pulang sebelum waktunya. Namun kali ini, Haura berharap ia mampu bertahan di tengah gempuran pembenci. Tak ada yang dapat disalahkan, termasuk takdir. Semua yang terjadi sudah memiliki garisnya sendiri. Haura percaya, pada awalnya, bahwa hal-hal yang rusak pasti akan menemukan utuhnya suatu saat nanti. Hingga di mana kepercayaannya mulai pudar, seseorang datang, menuntunnya kembali pada jalan berbatu yang ia lalui sebelumnya. Ia jelas menolak, untuk apa kembali pada tempat yang sama jika harus mengulang patah yang serupa untuk kesekian kali? "Untuk membuat usaha lo menanam benih bunga di tahun-tahun sebelumnya nggak sia-sia. Gak mungkin 'kan kalau lo gak mau ngelihat hal indah yang selau lo nanti kedatangannya." - Samudra Sean Albiru **** "Ketika hidup dianugerahi patah berkali-kali, kau akan memilih mati, atau kembali sembuh dalam keadaan tak utuh?" - Seperti Tulang

More details
WpActionLinkContent Guidelines