Who Am I?

Who Am I?

  • WpView
    Reads 92
  • WpVote
    Votes 7
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Oct 15, 2017
Cerita yang klasik, Dimana seseorang manusia biasa akan menemukan seseorang yang tak terduga. Tetapi, Cerita ini tak hanya menceritakan tentang hal itu saja, namun menceritakan pertualangan yang hanya bisa di katakan dalam hati dan kaku bila di ceritakan seperti ini. Sherly Eirin Piousy, ialah sang pemeran utama dalam cerita klasik ini. Perempuan berambut hitam panjang dengan mata violetnya yang tajam dan beku. Ia harus menemukan jati dirinya agar bisa memecahkan teka teki dari seseorang misterius yang tak bisa disebutkan. Menemukan jati diri di dunia yang bahkan ia tak tahu apakah dunia tersebut antara hitam gelap atau putih bersinar. __________________________________________________
All Rights Reserved
#488
im
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tolong, Aku Masih di Sini
  • Prambanan Obsession (END)
  • My Duchess / End
  • The lost story
  • Imagination Adventure 2
  • SINGASARI, I'm Coming! (END)
  • The Eternal Country (2):  The Secret's of the Hatrany (√)
  • The Hidden Heir
  • Athena Academy: The Lost Princess Of Crystallion
  • Dark Tales From Deep In The KEBUN DJENGKOL (TAMAT)

Mereka bilang, jangan pernah main ke hutan itu saat matahari mulai turun. Bukan karena hewan buas. Bukan juga karena tersesat. Tapi karena... tak semua yang berdiam di sana adalah manusia. Di balik pepohonan yang menjulang dan semak berduri, ada satu rumah kosong. Sudah lama tak ditinggali, katanya. Tapi kadang- lampunya menyala. Tirai bergerak. Dan suara tawa terdengar di malam hari. Warga desa memilih bungkam. Anak-anak yang bertanya dibungkam dengan dongeng-dongeng: "Rumah itu milik orang kaya yang pindah ke luar negeri." "Sudah tak ada apa-apa di sana." "Jangan percaya cerita aneh-aneh." Tapi wajah mereka selalu tegang saat menyebutnya. Dan tak ada satu pun yang berani menjejakkan kaki ke tanah itu. Sampai akhirnya, pada suatu sore, Tujuh anak muda tertawa di antara rerimbun hutan, memainkan petak umpet tanpa tahu batas. Langit mulai redup. Angin berubah dingin. Dan salah satu dari mereka... menghilang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines