Shadow [On Going]

Shadow [On Going]

  • WpView
    Membaca 309
  • WpVote
    Vote 264
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Jul 7, 2018
Gimana rasanya hidup tapi terasa mati? Itu lah yang di rasakan putri andini "Gue cape caa" "Jangan gitu put gue tau lo cewe kuat, lo bisa ngelewatin ini semua" "Gue ga yakin ca" menangis hanya itu yang bisa putri lakukan saat semua beban masalah sedang menimpa nya kadang gue suka mikir entah keberadaan gue di sekitar mereka terlihat atau gue cuma sekedar bayangan tak kasat mata yang hidupnya berada di sisi belakang mereka mengikuti kemana pun mereka pergi dan hanya terlihat saat sang mentari memancarkan sinar namun saat cahaya redup aku hilang bagai ditelan bumi . Hidup seperti ini amat sangat menyiksa diri. dirimu hanya akan terlihat oleh mereka saat mwereka membutuhkan bantuan gue but di saat mereka gak membutuhkan gue lagi, hidup seperti bayangan kadang terlihat kadang menghilang itu tidak lah menyenangkan apalah daya lu cewe biasa yang jarang dilirik lawan jenis lu jangankan buat dilirik, keberadaan lu emang dianggap disekitar mereka?
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#19
kehidupanseharihari
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • You're Here, But Not For Me
  • Story of My Life With You
  • PHILOCALIST [On Going]
  • My Perfect BoyFriend
  • Isi Kepala
  • SERENDIPITY : a Fact
  • GRIZLEN {On Going}
  • Regrets of Love
  • My Cold Prince

Katanya, tatapan bisa bohong. Tapi kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu, jantungku selalu membocorkan semuanya? Aku yang diam-diam menyimpan perasaan, dan dia... entah menyembunyikannya, atau memang belum menyadarinya. Kadang aku berharap dia gak lihat. Tapi kadang juga kecewa waktu dia beneran gak lihat. Lucu ya? Dan aku? Aku tetap di sini. Setiap kali aku melihatnya, aku hanya bisa menatap dari kejauhan, menyembunyikan perasaan yang tak pernah terucap. Aku takut, jika aku mengungkapkannya, semuanya akan berubah. Jadi, aku memilih diam, menikmati setiap momen kecil yang bisa aku curi bersamanya. Aku sering bertanya-tanya, apakah dia pernah merasakan hal yang sama? Namun, aku terlalu takut untuk mencari tahu jawabannya. Karena jika ternyata tidak, aku harus siap menerima kenyataan yang menyakitkan. Aku tahu, ini bukan cinta yang sehat. Tapi bagaimana aku bisa berhenti mencintainya, jika setiap detik aku hanya memikirkannya? Aku mencoba untuk menjauh, untuk melupakan perasaan ini. Namun, semakin aku mencoba, semakin aku terjebak dalam perasaan yang sama. Seolah-olah hatiku menolak untuk melepaskan. Aku membayangkan bagaimana rasanya jika dia tahu perasaanku. Apakah dia akan menjauh, atau justru mendekat? Namun, semua itu hanya ada dalam pikiranku. Aku menulis tentangnya, tentang perasaanku yang tak pernah sampai. Menulis menjadi pelarianku, satu-satunya cara untuk menyalurkan perasaan ini. Karena aku tahu, aku tak akan pernah bisa mengatakannya langsung padanya. Aku hanya bisa diam dan menahan semuanya sendiri. Tapi mungkin, inilah caraku mencintai. Dalam diam, tanpa harapan, tapi penuh ketulusan. Aku tahu, mencintai dalam diam adalah pilihan yang menyakitkan. Tapi aku juga tahu, ini adalah satu-satunya cara agar aku tetap bisa berada di dekatnya. Meskipun hanya sebagai teman, aku sudah cukup bahagia. Karena setidaknya, aku masih bisa melihat senyumnya setiap hari.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan