Nazira

Nazira

  • WpView
    Reads 8,845
  • WpVote
    Votes 354
  • WpPart
    Parts 11
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Apr 27, 2018
Raisya Alfira Nazira seorang gadis yg harus menjalani kerasnya kehidupan,dulu dunianya tak seindah sekarang, gelap kelam tanpa arah tujuan. Kini ia telah menemukan cahaya kedamaian dalam hidupnya. Hidup yang terarah karna ada iman dalam dadanya. Hidup yang berkah karna ia selalu takwa pada perintah tuhannya. Namun imannya kembali tergoyah saat kehadiran seseorang dalam hidupnya..seseorang yang kelak akan menjadi imamnya.. Siapakah orang tersebut?? Seperti apa kelanjutan ceritanya.?? ??? Marii sambung kelanjutan ceritanya sambung silaturahminya sahabat wattpad...? salam silaturahmi cahayacinta99
All Rights Reserved
#10
nazira
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Air Mata Cinta Di Teras Surga ( SELESAI )
  • JAZIRA ✔
  • Qanita
  • Diary Naifa [END]
  • The Girl Who Made Me Sujud
  • Kekasih Halal [TERBIT]
  • Imam Kedua (Tersedia di Dreame)
  • My Sweet Imam [SELESAI]
  • Sebuah Usaha Mencintai [TAMAT]

Malam ini, beberapa hari setelah aku kembali dari Arab Saudi, aku bersama ayah dan ibuku datang ke rumah salah seorang kerabat ayah untuk bersilaturrahmi di hari raya, dalih kami. Padahal, yang sebenarnya adalah kami memiliki maksud dan tujuan yang lebih utama dari bersilaturrahmi di hari raya, yakni untuk melihat gadis yang diinginkan ibu menjadi calon istriku. "Naira. Naira Salsabila nama lengkapnya. Naira ini adalah putri kandung kami." Begitu ayah gadis yang ingin kulihat itu memperkenalkan putri beliau kepadaku, dan kepada ibu dan ayahku, saat Naira, sapaan si gadis berhijab orange muda, menyajikan teh untuk kami yang sedang bertamu ke rumahnya. Naira, gadis berumur dua puluh tahun itu perlahan mulai mencuri pandanganku. Wajah putih lembut. Pipi yang merona. Tatapan matanya yang sendu. Senyum tipis yang mengunci bibir. Sikapnya yang santun. Pandangan yang senantiasa terkurung sungkan. Semua hal yang sungguh indah lagi anggun di mataku tersebut, seakan tak membiarkan hatiku untuk ragu pada niat suciku terhadapnya. Bahkan, sedikitpun keraguan tak ada bayangan akan tumbuh.

More details
WpActionLinkContent Guidelines