BAHAGIANYA DERITAKU

BAHAGIANYA DERITAKU

  • WpView
    Reads 1,672
  • WpVote
    Votes 58
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadComplete Wed, Dec 27, 2017
WpInfo
Fanfic
Takdir yang mempertemukanku dengan makhluk Allah yang bernama Hamidi Al Qarniy yang sering dipanggil Amdi. Dalam beratus-ratus juta jiwa manusia dalam dunia ini, kenapa aku yang harus bertemu dengannya. Lelaki muda ini memang memiliki wajah yang tampan, teguh memegang prinsip, perfectionist dan tidak menyukai orang yang tidak disiplin seperti aku. Tapi bukan hanya dia, aku juga sangat membenci manusia yang seperti dia, setiap kali aku bertemu dengannya hatiku pasti akan berdegup kencang. Cinta? No...! Bukan karena cinta, tapi karena takut padanya. Akankah diriku akan merasakan kebahagiaan? Atau malah menderita selamanya? #Dilarang keras menjiplak, mengcopy atau sejenisnya tanpa izin penulis.
All Rights Reserved
#17
agama
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • TEOLOGI CINTA
  • Z A Y N (SUDAH TERBIT)
  • SYAHADAT CINTA (Completed) #SUDAH DITERBITKAN
  • Sedekat Nadi Sejauh Matahari [BELUM REVISI]
  • Imam untuk Gladysa✓
  • Sketsa Takdir ( ON GOING )
  • Imam Idaman (END)
  • Skenario Allah yang Terindah (END)
  • Untukmu Imamku

Memilih jodoh tak seperti melempar dadu. Aku sudah super hati-hati, ketika akan memutuskan Ghani menjadi suamiku. Tetapi Tuhan punya rencana lain. Ketika Ghani dalam keadaan tak berdaya, koma dan amnesia. Aku jadi berpikir ulang. Semakin tak tega untuk mencampakkan begitu saja. Aku tak tahu, apa ini cinta atau bukan. Yang jelas rasa itu hadir mengikat hatiku. Ghani bagiku saat ini tak lagi seperti pakaian. Jika tak cocok, aku mengganti yang lain.Bahkan, hari demi hari aku tak ingin jauh darinya. Aku tak ingin sewaktu-waktu jika ia dipanggil-Nya, aku luput dari sisinya. Terkadang aku tak mengerti banyak hal tentang diriku sendiri saat ini. Sejak Ghani bernasib naas, aku merasa berdosa besar dan sulit untuk memaafkan diriku atas niat burukku dulu pernah menuntutnya bercerai. Kini, justru sebaliknya, aku seperti telah jatuh cinta untuk kedua kalinya, tanpa syarat, sampai tertawan, hingga berserah tanpa bisa melawan. Aku mengizinkan hatiku mengalir bersama keterbatasannya, tanpa alasan jelas, bahkan cenderung absurd. Ada rasa kasihan dan iba yang luar biasa. Seperti gaya percintaan kakek nenek yang telah menua dan renta. Terkadang kuberpikir apakah hubungan suami istri seperti ini yang ideal? Tak mudah lekang oleh pancaroba. Dibanding yang didasari hitungan untung-rugi dengan mengatasnamakan cinta? Yang tak kumengerti sampai saat ini, mengapa aku semakin takut kehilangan Ghani? Sampai aku tak mampu lagi mengindetifikasi perasaanku ke Ghani, apakah aku mencintai atau mengasihani?

More details
WpActionLinkContent Guidelines