Because My ALLAH

Because My ALLAH

  • WpView
    LECTURAS 1,021
  • WpVote
    Votos 28
  • WpPart
    Partes 3
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, nov 21, 2017
WpInfo
Ficción
Temas Sociales
Bagaimana kabarmu, Gumilang? Semoga Allah selalu memberimu kebaikkan Apa kamu mengingatku? Hingga kini, kamulah yang kuharap Aku menghabiskan waktuku untuk menunggu Memantaskan diriku agar Allah memberikanmu Padaku Gumilang, Aku menunggu kau menjemputku Meskipun kita bukanlah dua orang yang akrab Kelak, Ketika Allah telah mempertemukan kita dalam ikatan halal Aku harap, kau selalu meletakkan kecintaan pada Allah dan Rasul diatas segalanya. Kau orang yang selalu kusemogakan menjadi imamku, Gumilang
Todos los derechos reservados
#7
rasulullah
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Kawin Kontrak? [COMPLETED]
  • Kasih Sayang Muslimah
  • Gadis November [Completed]
  • Ternyata Kamulah Lauhul Mahfudz Ku
  • Ikhwan [SELESAI]
  • GUNTUR [Completed]
  • Lantunan Kalam Hati ✔
  • Love In Silence
  • School Scandal ✓

[COMPLETED] "Jadi lelaki itu yang akan dijodohkan ibu denganku? Tega sekali, Ibu," gerutuku. Aku semakin membulatkan tekadku untuk menolak ini. Tanpa kusadari, ibu melihat ke arah jendela kamarku dan melihatku kesal. Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu kamar diketuk. "Baby, buka pintu!" Pintanya tegas. Aku pun membukakan pintu. Lalu menelungkupkan badanku di atas kasur. Ibuku menarik kursi belajarku mendekat ke arahku dan memandangiku, lalu berkata pelan padaku. "Kau tahu sendiri kan kebiasaan di sini? Kau juga tahu asal usulmu? Kau paham betul, bagaimana ibumu ini bertahan? Semua karena ibumu ini sepakat dengan norma di sini. Mana mungkin kita bisa hidup cukup seperti ini kalau tidak mengikuti itu semua. Baby, kau tahu itu semua. Harusnya kaupun seperti ibumu ini, ikut arus itu." Melihatku tidak memandangnya, ibu terus mengatakan hal-hal yang sebenarnya kami berdua sama sama tahu. "Ibu menikah dengan bapakmu ketika seusiamu. Dengan itu, ibu bisa memiliki rumah ini dan seperangkat alat jahit. Ibu mampu membesarkanmu, menyekolahkanmu, memenuhi segala keinginanmu, dan tidak pernah menyusahkan orang lain. Kau memang tidak pernah bertemu bapakmu, tapi ibumu ini sudah bercerita tentangnya." "Kita hidup tanpa kekurangan. Bahkan bisa membantu sesama. Kita pun hidup bahagia. Mereka yang juga melakukan ini pun juga sama." "Menikah bukan sesuatu yang salah, Baby." Ibuku mengakhirinya dengan kalimat itu, lalu berdiri hendak keluar kamarku. "Tapi menjanda di usia muda bukan keinginanku, Bu." Balasku sebelum ibu keluar kamar. Ibuku berhenti sejenak, kemudian keluar dari kamarku. Happy reading~ Jangan lupa untuk: √ Vote √ Coment √ Kritik dan Saran Hargai author dengan vote, terimakasi💞

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido