Little Dew

Little Dew

  • WpView
    Reads 4,514
  • WpVote
    Votes 139
  • WpPart
    Parts 15
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 30, 2020
WpInfo
Fiction
Romance
Leo bukan lelaki kuat yang memiliki tubuh kekar dan berotot, olahraga bukan bidang keahliannya. tentu saja bukan, tidak pernah sekalipun ia menyentuh sepatu olahraga. bahkan berlari kecil sedikit saja napasnya sesak dan sulit. Akibat jantungnya yang lemah, Leo jadi tidak bisa beraktivitas layaknya anak lelaki biasa. padahal Bricela (coconut) adalah pemain voli handal disekolahnya, wanita yang selalu hadir disisi Leo ini selalu mewakili sekolahnya untuk lomba voli tingkat nasional. Leo pun frustasi akan kelemahannya. dan cocon lah yang selalu menyemangatinya, ketika memberi semangat, jari - jari lentik coco bergerak dan berputar didepan matanya, coco menggunaan bahasa tangan. Mereka adalah sepasang kekasih yang tidak sempurnya karena penyakit Leo dan kebisuan Coco, apakah hal tersebut dapat mempertahankan cinta mereka?? (On Going again.....)
All Rights Reserved
#75
younglove
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Not Me & Not Mine
  • Imperfection : Trapped With Troublemakers✓ [Republish+Remake]
  • Transmigrasi Queen Antagonis
  •  Istri Untuk Anak Manja (End)
  • BENIH LUKA (ON GOING)
  • Bricia's world (Part Gak Lengkap)
  • I Became the girlfriend of an Antagonist [END]
  • ice bear kesayangan
  • FIGURAN GIRL ( LENGKAP )
  • Embun di Ujung Semanggi

Tak ada kesalahan tanpa adanya sebuah perbuatan, begitu pula dengan kisah Zara dan Rafif-dua hati yang, entah bagaimana caranya, selalu kembali bertaut meski diwarnai begitu banyak perbedaan. Zara, seorang perempuan yang selalu berusaha memahami, menerima Rafif apa adanya, termasuk sifat kekanak-kanakannya yang sering kali membuatnya menghela napas panjang. Setiap kali dia menunjukkan sisi inner child-nya di saat-saat yang tak terduga, Zara tak bisa menahan diri untuk menyipitkan mata, menatapnya dengan ekspresi antara geli dan tidak percaya. "Kamu selalu bilang bisa menerima aku apa adanya, tapi tiap aku bersikap begini, ekspresimu langsung berubah," Rafif bersedekap, bibirnya mengerucut seakan protes. Zara mendesah pelan, menyilangkan tangan di dada. "Bagaimana tidak? Kadang kamu bisa bertingkah seperti anak kecil, bahkan di tempat umum," ucapnya, setengah gemas setengah tak habis pikir. Cinta mereka bukanlah kisah yang selalu berjalan mulus. Ia tumbuh dengan caranya sendiri-kadang seperti bunga liar yang mekar tanpa aturan, kadang seperti lukisan abstrak yang penuh warna namun sulit untuk didefinisikan. "Ambil sepatumu dan pakai, Rafif. Di tempat seperti ini pun kamu tetap saja menyusahkan," ujar Zara, matanya melirik ke arah kaki Rafif yang masih telanjang di lantai dingin. Rafif terkekeh kecil, tidak tergesa-gesa mengambil sepatunya. "Aku cuma menunggu kamu dulu sebelum pakai sepatu," katanya ringan. Zara menghela napas lagi. "Aku pergi sebentar beli makanan, bukan pergi selamanya," ia menyodorkan sesuatu pada Rafif. Sekejap mata Rafif berbinar begitu melihat apa yang ada di tangannya. "Wah! Es krim kesukaan kita! Aku mauu~" serunya penuh semangat, seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah. IG/aqieff_bhlwn Tiktok/elsyaqief

More details
WpActionLinkContent Guidelines