My Raffael

My Raffael

  • WpView
    Reads 2,107
  • WpVote
    Stimmen 481
  • WpPart
    Teile 27
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert Do., Nov. 30, 2017
WpInfo
Belletristik
Romantik
"Aku tidak tau,bisa memiliki kamu atau tidak. Karena aku tidak terlihat oleh kamu,seperti langit biru,yang tertutup oleh langit senja." Syifa menangis begitu membaca secarik kertas yang di dapatkannya di laci meja. Ia hafal tulisan itu milik siapa. "Lin,kamu benar. Yang nama nya cinta,tidak akan bisa di rencanakan..." Gumam Syifa. Tanpa Syifa sadari,dari balik pintu jelas Raffael tengah memperhatikan dirinya dengan wajah sedikit sendu. Menggambarkan rasa cinta yang terama sangat kepada gadis yang kini sedang membaca suratnya di dalam kelas.
Alle Rechte vorbehalten
#28
raffael
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • SUARA BIA (TAMAT)
  • JANJI YANG TAK SEMPAT DITEPATI
  • Cinta Monyet Raka dan Syifa
  • Love at First Sight
  • Surat Tanpa Nama
  • LDR (Logika Dalam Rasa)
  • 𝓙𝓮𝓳𝓪𝓴 𝓚𝓮𝓷𝓪𝓷𝓰𝓪𝓷 𝓭𝓲 𝓤𝓳𝓾𝓷𝓰 𝓢𝓮𝓷𝓳𝓪

"Bia, Ibu tahu, ini semua hanya keisenganmu untuk lari dari hukuman. Tapi hukuman tetaplah hukuman, Bia. Kau tidak bisa lari dari itu." Lanjut sang Guru menyadarkan Bia dari lamunannya. Sorot matanya penuh kekecewaan. Tangannya mengepal, mencengkeram erat rok biru yang ia kenakan. Ia merasa tersudut. Tak ada yang mendengarkannya. Tak ada yang memahaminya. Tidak kedua orang tuanya, tidak juga tempat yang konon disebut rumah keduanya. Sekolah. Sedetik kemudian Bia bangkit dari kursi. Mengambil kertas dan pena yang ada. Lugas, ia menuliskan sesuatu dengan tangan kecil yang penuh luka itu. Getar terlihat dari tangannya. Guru itu memandang bertanya-tanya. Namun Bia tak peduli. Ia meletakkan pena itu, lalu dengan cepat melipat kertas itu. Tanpa permisi, Bia meninggalkan ruangan dan sang guru yang masih tak mengerti aksi apa lagi yang akan dilakukan siswi itu. Langkahnya cepat. Tujuannya terhenti pada kotak saran yang usang. Kotak yang terbuat dari kayu itu tampak berdebu dan diselimuti sarang laba-laba. Bia menelan salivanya. Menatap lurus pada kotak itu dengan sedikit sisa-sisa harapan yang ada. *** ⚠️Semua yang ditulis adalah murni imajinasi penulis. Vote dan komentar yang diberikan akan sangat berharga/memberikan semangat penulis untuk membuat kisah selanjutnya. Selamat membaca, semoga terhibur dan terimakasih telah menyempatkan waktu untuk membaca :) ❤️

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien