The Sengklek

The Sengklek

  • WpView
    GELESEN 150
  • WpVote
    Stimmen 13
  • WpPart
    Teile 9
WpMetadataReadLaufend
WpMetadataNoticeZuletzt aktualisiert So., Nov. 26, 2017
Tentang persahabatan fangirl fangirl ria ( yg neriakin oppa oppa mulu, biasanya si gitu .TAPI BUKAN OPPA YG DI UPIN IPIN .) yg biasanya di panggil geng paraalay (tapi itu kata orang orang) kalo dari orangnya si sebutnya c'weHITZS Sandra : eeh tai kuda gw denger ada yg bilang geng kita harusnya sebutanya paraalay. Temeng segengnya : apa si.. Upil badak bersisik tau g, y udah biarin aja ada yg bilang k'e gitu ke geng kita yg penting gw g alay 😛 Mangga* Monggo di baca....
Alle Rechte vorbehalten
#6
singapura
WpChevronRight
Werde Teil der größten Geschichtenerzähler-CommunityErhalte personalisierte Geschichtenempfehlungen, speichere deine Favoriten in deiner Bibliothek und kommentiere und stimme ab, um deine Community zu vergrößern.
Illustration

Vielleicht gefällt dir auch

  • Air Mata Di Pintu November (TERBIT) ✓
  • My Three Brothers [Terbit]
  • GEVRONZ
  • Topeng Sahabat [ HIAT ]
  • Partfect
  • Cheerful Girls
  • ASRAMA LANTAI 7 {TERBIT} ✓
  • ArvinRayla(✔️)
  • Terima kasih Imajinasi [end]
  • GRANDSON'S EYANG MUHSIN [ NCT DREAM] End

Novel bisa dibeli di Shopee Jaehana_Store BAGIAN KEDUA SAPTA HARSA VERSI NOVEL || KLANDESTIN UNIVERSE "Kenapa lo jahat sama gue! Kenapa kemarin lo pergi? Kenapa? Kenapa lo ninggalin gue? Kenapa lo tega, Jen?" Haikal tak bisa lagi menahan kesedihan yang telah menumpuk di dalam dirinya. Jendral hanya tertawa kecil. "Lo ngomong apasih, Kal? Gue nggak pergi ke mana-mana, kita kan selalu sama-sama. Gue mana pernah ninggalin lo. Ayo ikut, gabung sama yang lain." Ia menarik tangan Haikal, mengajaknya berlari menuju sisi lain dari air mancur itu. Di sana, semua anggota Klandestin berkumpul. Beberapa duduk di atas ayunan yang berderit pelan, ayunan tersebut dihiasi dengan lampu-lampu kecil yang mengelilinginya. "Bang Haikal! Kenapa telat? Kita nungguin loh!" seru Cakra. "Kal, sini, ada mainan yang cocok buat lo," tambah Reihan. Namun, Haikal menggeleng. Ia justru menggenggam erat tangan Jendral di sampingnya. "Kenapa, Mbul? Main sana," Jendral menatapnya dengan heran. Haikal menggeleng lagi, kali ini dengan lebih kuat. "Gue takut," bisiknya, suaranya hampir tak terdengar. "Takut?" Jendral tertawa, seolah-olah hal itu adalah lelucon. "Seorang Haikal takut?" Haikal mengangguk, menahan diri untuk tidak menangis. "Gue takut kalo genggaman tangan gue lepas, lo bakalan pergi."

Mehr Details
WpActionLinkInhaltsrichtlinien