The Real Illusion

The Real Illusion

  • WpView
    Reads 72
  • WpVote
    Votes 14
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadComplete Sun, Nov 5, 2017
Yang terpenting dalam kehidupan adalah bagaimana cara kita menjalaninya bukan meratapinya. Apalagi saat kita mendengar cacian dari orang lain yang membuat hidup kita semakin terpuruk. Kita hanya punya dua tangan dan dua telinga. Memang dua tangan tidak cukup untuk menutup semua mulut orang yang mencaci, tetapi kita hanya perlu menutup kedua telinga kita untuk menghiraukan seperti apa cacian mereka.
All Rights Reserved
#73
myfirststory
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dear Fenly || Un1ty
  • Not Me
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • snow globe (jung fams) COMPLETE
  • CHEOSSARANG (Complete)
  • Edge Of The Heart
  • Do you love me???
  • 𝐜𝐫𝐚𝐳𝐲 𝐬𝐭𝐮𝐩𝐢𝐝 𝐥𝐨𝐯𝐞 | 𝐣𝐮𝐧𝐠𝐤𝐨𝐨𝐤✔
  • FF BaekHyun - Cold [✔]
  • 𝐋𝐢𝐤𝐞 𝐀 𝐅𝐨𝐨𝐥 [𝐓𝐖𝐈𝐂𝐄] ✓

Sama halnya seperti semburat warna pelangi Gugusan bintang di langit dan aurora Borealis Beberapa entitas indah memang diciptakan untuk dipandang Bukan untuk diraih apalagi dimiliki Bagaikan mengharap pakistan bersatu dengan India Jangankan kasih sayangnya, perhatian darinya saja tak dapat ku miliki Ini bukan bagaimana aku mengisahkan cerita cinta dalam hidupku, kisah ini tak berisi bagaimana aku bertemu gadis cantik karna tak sengaja menabraknya atau tak sengaja satu kelas dengan dia, kemudian kami saling jatuh cinta dan bahagia. Tidak ini jauh dari kisah seperti itu. Aku ingin menceritakan kebohongan mamaku yang mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Aku ingin menceritakan kebohongan mama yang katanya akan menemaniku selamanya dan aku juga ingin menceritakan kebohongan mama tentang bagaimana indahnya memiliki saudara. Aku tak mengerti bagaimana bisa wanita yang paling ku percaya tega membohongiku, aku masih tak mengerti bagaimana Tuhan menuliskan kisahku ke arah mana, ia memberiku air mata tapi sepertinya lupa menuliskan kata bahagia, setelah semua kebohongan itu ku terima, setalah takdir itu Tuhan mainkan kehidupanku banyak berubah. Kepedihan dan penderitaan mulai tertarik untuk singgah. Meninggalkan rumah, dan tinggal dengan manusia-manusia random akan menyenangkan pikirku, hingga aku lupa jika salah satu dari mereka adalah sumber luka yang nyata. Sia-sia aku lari ternyata luka itu turut mengikuti, ingin mencoba membenci tapi aku tak akan pernah sanggup perangi. Hingga kini luka itu abadi dalam hati.

More details
WpActionLinkContent Guidelines