Without The Moon

Without The Moon

  • WpView
    Reads 52
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Jun 24, 2018
'Prang!' 'Brukk!!' "Aku tanya Mas! Siapa perempuan tadi?" 'Plakk!' "Berani kamu ngebentak aku?" "Tinggal jawab Mas! Ga usah bertele-tele! Siapa perempuan itu?!" "Turunin tatapan kamu sekarang Annisa!" Sayup-sayup aku mendengar suara tengkaran itu. Aku menghembuskan napas kasar. Tak ada air mata yang menggumpal, hanya ada kemarahan yang menggunung di dalam hatiku. Aku lelah mendengar ini hampir setiap hari. Kalau saja ada cara untuk menghentikan ini semua. Tiba-tiba segumpal asap memenuhi isi kamarku. Reflek, aku menutup mataku agar tak terkena iritasi. Setelah beberapa saat, perlahan ku buka mata. Di depanku berdiri seorang perempuan dengan tersenyum sangat manis. Aku terpana dibuatnya. "Hai Arinnn..." wajahnya sangat bersinar bagaikan berlian di tengah kegelapan. Sadar dari keterpanaanku aku langsung memasang wajah waspada. "Lo siapa?!" tanyaku sedikit membentak. Dia masih memasang senyum manisnya. "Kamu ga perlu tahu tentang aku. Aku di sini hanya menjalankan tugas yang diamanatkan oleh atasanku." "Trus apa hubungannya sama gua?" tanyaku galak. "Tugasku berhubungan dengan kamu dan orang tua kamu," ucapnya serius. Dan sejak hari ini aku tahu, akan ada masalah yang menghampiriku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Kasat Rasa [Ongoing]
  • Rumah Sepasang Luka ✓
  • Silent, Please! (Re-up)
  • ONLY YOU
  • ALRIN
  • LALA
  • Crazy Marriage
  • Living with Brothers  [TAMAT]✓
  • Impossible

Keduanya sama-sama tertawa ketika suasana perlahan mencair. Juwita yang mulai membuka diri kini kembali melontarkan pertanyaan acak yang Ia sesali setelahnya. "Kamu kalo kesini sama siapa, raf ? Pacar ?" Raut lelaki itu tiba-tiba berubah. Tatapan matanya berpendar kearah lain, menyembunyikan cemas yang tersirat di balik jawabannya yang santai. "Pacar saya lagi gga di sini, Rei. Dan dia bukan anak tongkrongan kayak kita." Tanpa sadar gadis itu menahan nafasnya sendiri, belum siap dengan jawaban yang diterimanya. "Oh, gitu. Udah lama LDR-nya ?" Juwita bertanya lagi dengan wajah ingin tahu, walau kenyataannya justru sebaliknya. Sebab menurutnya akan aneh ketika topik itu hanya berhenti sampai di situ saja. "Sejak lulus kuliah. Dua bulan yang lalu. Dia sekarang lagi lanjutin S2 di Jakarta." "Wowww,,,hebat ya dia masih semangat untuk kuliah. Limitted edition tuh cewek kayak gitu. Kamu beruntung, raf." Lelaki itu hanya menjawabnya dengan senyuman tipis. Kepalanya menunduk, menyembunyikan wajahnya dari Juwita yang sedang menatapnya nanar. Setelahnya, obrolan itu terjeda beberapa saat. Keduanya kembali sibuk dengan isi kepala masing-masing. Juwita yang merasa bersalah karena telah menghadirkan pembahasan yang berat, juga Asraf yang kini sedang mengabaikan kenyataan yang membuat suasana kembali hening. "Kayaknya salah banget ya kita baru ketemu sekarang ?" Rasanya seperti ada sebuah kekuatan besar yang menyerap habis suara-suara di sekitar mereka. Heningnya terasa mencekam ketika hanya ada suara Asraf dan debar jantungnya di sana. Pertanyaan Asraf tadi menggaung di telinga, menimbulkan rasa perih yang tidak seharusnya ada. Untuk apa Ia merasa kecewa ketika tahu bahwa Asraf ternyata sudah punya pacar ? Bukankah mereka tidak pernah memiliki hubungan yang spesial sebelumnya ?

More details
WpActionLinkContent Guidelines