Story cover for Dirend by orangyaaa
Dirend
  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 3
Ongoing, First published Oct 29, 2017
❤

"Tau nggak? Kalau  gelembung udara itu dari cahaya dan udara?" tanya Dirend. 

"Hm? " cewek itu merasa bingung. 

"Iya, gelembung udara itu dari cahaya matahari dan CO2. Lalu kalau gelembung Cinta dari apa?" dia hanya menggeleng. "Dari cahaya hati dan udara untuk bertahan. "

"Udara? Usaha kali."bantahnya. 

Keduanya tersenyum bersama malam penuh kilau berlian langit. 

❤

This is original story! 
Don't copy and paste please!
All Rights Reserved
Sign up to add Dirend to your library and receive updates
or
#56pratama
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Renjana : Arutala Dirgantara [Completed] cover
Dr. Kwong | Lingorm cover
Angin Padang Rumput (Sudah Terbit) cover
ARGA [REVISI] cover
ALESYA (END) cover
The CEO Who Protected Her Soul cover
Putaran Nada cover
Langit Yang Tak Lagi Biru cover
COUPLE GILA cover
PERJODOHAN (Matchmaking) [END] cover

Renjana : Arutala Dirgantara [Completed]

73 parts Complete

TERSEDIA JUGA DI GOODNOVEL DENGAN JUDUL MUNAJAT PERAWAN TUA "Untuk apa kamu cemas? Apa putrimu terlibat masalah?,"tanyaku. "Apa aku harus mengatakan dengan jelas? Apa menurutmu sekalipun kamu tidak peduli dengan sekitar tidak akan ada yang peduli denganmu?,"tanya Dirga membuatku mengambil tangannya. "Terima kasih sudah membantu. Aku berhutang budi padamu,"ucapku enggan berkilah. "Jangan mengatakan hutang budi, jika kamu tidak mau membayar,"ucap Dirga. "Kalau begitu katakan. Apa yang bisa ku lakukan untuk membayarnya?,"tanyaku. "Menikahlah dengan ku,"ucap Dirga membuatku melepaskan tangannya. "Apa kamu sudah gila? Kamu pria yang sudah menikah, Dirga. Kamu terlalu jauh,"ucapku memalingkan wajah. "Tapi aku duda,"skak Dirga membuat wajahku pucat seketika. -&- Setiap knot kecepatan melaju menembus Cakrawala, sejauh itu cinta yang ku tinggalkan di setiap jejak awan. Saat roda-roda pesawat tidak lagi menapak di ujung landasan, tersisa lah keikhlasan menerima semua takdir. Berpangku pada bait ayat Allah yang terus terlantun merdu. Tingginya langit yang bisa ku tembus tidak membuatku sedekat sujud di penghujung sajadah. Jika serdadu hanya bisa mematahkan senapan di ujung pertempuran dan cendekiawan yang saling beradu argumen di atas meja mematahkan kebingungan. Lantas apakah tidak mungkin meminta Pencipta ku mematahkan takdir yang menjerat? Update seminggu 2 kali😁