Astarin

Astarin

  • WpView
    Reads 527
  • WpVote
    Votes 75
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jan 27, 2018
Written by raradiasi & alpimart Dalam putaran detik dalam hidupnya, Rinjani hanya terpusat pada Angkasa. Baginya Angkasa adalah semestanya. Karena Angkasa Rinjani menjadi berantakan akan semua tugas, Angkasa selalu mengusik pikirannya, dan Angkasa adalah alasan Rinjani mati-matian untuk mendapatkan nilai tinggi. Di mata Angkasa, ia hanya menyukai perempuan yang pintar, sedikit feminim, bukan perempuan seperti Rinjani yang selalu tampil apa adanya. Dari semua apa yang Rinjani lakukan, ada Asta yang selalu memperhatikan. Asta menyukai gaya Rinjani yang sederhana dan apa adanya. Tidak menuntut harus pintar, sempurna atau apapun. Lantas, seperti apa Asta di mata Rinjani?
All Rights Reserved
#15
asta
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • LANGIT JINGGA (TAMAT)
  • Senioritas (TAMAT)
  • Angkasa Dan Agatha (Cinnga)
  • Thank You, Papa
  • ELEGI ANGKASA
  • Ruang Singgah
  • Cross the Line (𝐁𝐞 𝐘𝐨𝐮𝐫 𝐌𝐨𝐧𝐬𝐭𝐞𝐫)
  • Rainangkasa #2 [END]
  • Angkasa Membenci Hujan (Masih Lengkap-END)
  • Garis Orbit [Selesai]✓

"Semua keinginan gue, gak pernah jadi kenyataan. Itu cara kehidupan menghukum gue." *** Aga, atau lebih lengkapnya Airlangga Putra Senja. Pangeran bermata kelabu paling sempurna abad ini dengan tatapan menghangatkan namun sorot mata yang terlihat begitu lelah. Ia memiliki segala yang diinginkan oleh teman-temannya. Ketampanan.Kecerdasan. Kekayaan. Bahkan kebaikan hatinya. Kecuali satu, fakta bahwa ia tak lagi memiliki minat apapun di dunia ini bahkan terhadap hidupnya sendiri. He almost perfect... Namun Caca membencinya. Tapi tunggu, sampai Aga tiba-tiba saja selalu muncul di dekatnya. Apa yang harus ia lakukan? Dan bagaimana jadinya ketika bom waktu yang terpendam dalam mata kelabu itu akhirnya meledak? Ini adalah kisah bagaimana kata-kata yang tak kau anggap berarti, terkadang mampu mendorong seseorang hingga ke tebing keputusasaan. ➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖ "BENCI BANGET!" "Gue benci sama dia. TITIK. Jangan tanya alasannya kenapa kalo gak mau tuh luka gue bikin panjang sampe ke dagu, ngerti?!"

More details
WpActionLinkContent Guidelines