Gaea
  • WpView
    Reads 243
  • WpVote
    Votes 26
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 8, 2019
WpInfo
Fiction
Romance
Gaea tidak menyangka sama sekali, abang yang kadang dibencinya, malah membawa sesuatu yang baru dan menyenangkan untuknya. Apalagi kalau bukan cinta? Tapi cinta terdengar payah, terlalu 'menye-menye'. Pada dasarnya, Gaea tidak menyukai sesuatu yang romantis. Namun, Jae datang sebagai cowok romantis, namun juga misterius. Gaea dengan bodohnya terpikat dengan cara cowok itu bermain game, berbicara, serius, marah bahkan ngupil! Terlebih lagi ketika Jae meminta Gaea untuk melakukan sesuatu bersama, kalimat 'Gaea tidak menyukai sesuatu yang romantis' seketika tidak berarti apapun. Namun Jae dengan segala misterinya membuat Gaea terkadang tidak tahan. Tapi yah, namanya juga remaja, sekali-kali menyicipi manis pahitnya cinta, gapapa lah. Copyright Β© 2017, Carissa Caren
All Rights Reserved
#134
teenlife
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Reynand & Joya | END
  • Gula - Gula
  • This Love
  • If I Don't Hurt You (END)
  • RUANG RINDU
  • Beautiful Tattoo (COMPLETED)
  • π‘²π’‚π’‡π’†π’Šπ’π’Žπ’–! β™₯︎
  • STAY WITH ME (ON GOING)
  • How to Burn the Bad Boy (END)

Follow sebelum baca yuk, untuk mengikuti ceritanya. #645 dalam TEEN FICTION-11/3/2018 #961 dalam TEEN FICTION-9/2/2018 "Kuda poni! Dasar jelek, sinting, kutu kupret, tai lo. Maju sini, gue telen lo hidup-hidup!" teriak Joya mengerahkan semua kekesalannya. Ia bersumpah serapah tanpa berpikir mengampuni orang yang sudah membuat hidupnya sengsara. "Nggak usah teriak-teriak, gue di sini." Suara orang tersebut berada di atas pohon dekat parkiran. Reflek, kedua gadis itu menengadah, menatap pemuda nakal yang nangkring di atas sana. "Turun lo!" perintah Joya seraya berkacak pinggang. "Mau apa? Mau cium gue, ya? Idih nakal." Pemuda itu malah membuat Joya semakin kesal. Ocehannya selalu saja ampuh membuat hari-hari gadis itu semakin runyam. "Najis. Mati aja lo, pengecut!" Joya masih kesal, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu tidak terkontrol. "Kurang banyak sih, 'kan cuma kempes, nggak sampai penyok." Rutinitas nakalmu berujung terbiasa. Kalo pengen tau terutama Baca selengkapnya ya..... (Di larang mengutip atau menjiplak sebagian/keseluruhan cerita ini tanpa izin)

More details
WpActionLinkContent Guidelines