The Difference

The Difference

  • WpView
    Reads 1,964
  • WpVote
    Votes 197
  • WpPart
    Parts 12
WpMetadataReadMatureOngoing1h 44m
WpMetadataNoticeLast published Fri, Nov 3, 2017
[TAMAT] Adam dan Eve, seorang supervisor dan karyawan baru yang terjebak perjodohan dari rekan-rekan kerjanya karena hanya mereka berdua yang single diantara rekan satu divisi. Tanpa rekan-rekannya sadari bahwa mereka menjunjung tinggi agamanya masing-masing. Namun, benih cinta yang tumbuh antara Adam dan Eve tak dapat dihindari. Suatu hari Adam harus pulang ke Bali. Adiknya, Fatih, mengalami kecelakaan hingga menyebabkan pacarnya hamil diluar nikah. Sedangkan ibunya masih menjunjung tinggi adat istiadat bahwa haram hukumnya seorang adik melangkahi kakaknya. Adam harus segera menikah dengan Zahra, anak kiai yang dikenalkan oleh kakak iparnya. Kembali ke Jakarta, cincin sudah melingkar di jari manis Adam. Tapi Adam tak yakin dengan kebahagiaan yang dipilihnya, saat kembali melihat wajah Eve. Apa yang akan Adam katakan pada Eve? Apa Eve bisa menerimanya? Bagaimana perasaan Zahra mengetahui adanya Eve dalam kehidupan Adam? Cover by @alka_lekha
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Mutowifku Tersayang
  • Mahligai Impian
  • Menyapa Takdir (END)
  • SAKITI AKU! [ ✅ COMPLETED ]
  • BENAR UNTUKMU [COMPLETE]
  • 𝑷𝑹𝑬𝑪𝑰𝑶𝑼𝑺 𝑳𝑶𝑽𝑬 | C
  • HIS FAVOURITE MELODY [C]
  • TAKDIR DUA RAHSIA [OG]
  • Milik Tuan Megat [𝒞 ]
  • 3 Gadis Bunga (C)

Prolog Mekkah selalu punya cara membuat hati bergetar. Bukan hanya oleh lantunan adzan yang menggema dari Masjidil Haram, bukan pula oleh jutaan langkah yang berputar mengelilingi Ka'bah tanpa henti. Tapi oleh sesuatu yang tak pernah bisa dijelaskan-takdir yang Allah titipkan di antara doa dan air mata. Namaku Fadhlan. Aku seorang mutowif-memandu para tamu Allah yang datang dari berbagai negeri untuk menunaikan ibadah Umrah. Tugasku sederhana: membimbing mereka membaca niat, menuntun langkah mereka dalam thawaf dan sa'i, serta memastikan perjalanan ibadah itu lancar dan terjaga. Namun, dalam perjalanan yang lalu, tugasku berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Aku masih ingat saat pertama kali menatapnya. Seorang wanita muda, sederhana dalam balutan kerudung putih, tapi wajahnya memancarkan cahaya yang menenangkan. Senyumnya tipis, lembut, seperti doa yang dipanjatkan dalam diam. Ia datang bersama ibunya, meninggalkan ayah yang sedang sakit keras di tanah air. Namanya... Melati. Sembilan hari bersama rombongan Umrah seharusnya hanya meninggalkan kenangan singkat, sebagaimana biasanya. Tapi hari-hari itu menumbuhkan sesuatu yang berbeda. Sebuah perasaan yang anehnya, bukan mengganggu ibadahku, melainkan justru membuat setiap doa terasa lebih hidup. Namun, Allah punya cara sendiri menjaga rahasia-Nya. Ada kalanya doa yang kita panjatkan terasa menggantung di langit, tanpa jawaban. Ada kalanya cinta yang tumbuh justru diuji dengan jarak, waktu, dan keraguan. Dan aku... hanya bisa berserah. Kini setiap kali aku berdiri di hadapan Ka'bah, aku selalu mengingatnya. Wajah itu, senyum itu, doa-doanya. Entah di mana ia berada, entah bagaimana takdir menuliskannya. Yang kutahu, namanya tetap hidup dalam hatiku. Mutowifku tersayang... begitu ia pernah menyebutku dalam candanya. Sebuah panggilan yang sederhana, tapi cukup untuk membuat setiap langkahku terasa berarti.

More details
WpActionLinkContent Guidelines