The Freedom of Love

The Freedom of Love

  • WpView
    Reads 130
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, May 5, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
" Kehilangan " satu kata penuh arti. Satu kata yang selalu orang hindari. Satu kata yang tak punya rasa empati. Satu kata yang harus kita hadapi. Kita tidak tahu kapan kata itu terucap. Kita tidak bisa menolak atau menahannya. Karena " Kehilangan " selalu mengalir seperti air, mengalun seperti nada, berhembus seperti angin. Kita tidak bisa menghindar, namun kita dituntut harus selalu siap kapanpun kata itu terucap. Be strong. I know you are not a weak person.
All Rights Reserved
#26
tersakiti
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • The Bleeding Lady [completed]
  • After he left
  • -I'm not yours.
  • Badai, Kapan Berlalu?
  • Jauh. Esok Nanti atau Selamanya
  • Antara dosa dan Cinta Pertama
  • Love & Tears
  • Senja Dan Jingga
  • JASMIN(slow Update)
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines