Sang Penakhluk

Sang Penakhluk

  • WpView
    MGA BUMASA 49
  • WpVote
    Mga Boto 19
  • WpPart
    Mga Parte 2
WpMetadataReadMatureKumpleto Thu, Dec 14, 2017
Orang memanggilku will Tampang tak usah ku sebutkan Dandanan layaknya preman dijalanan Ya, ini lah seni ku Tidak seperti kebanyakan orang Aku dianggap tak punya masa depan Mereka sebut aku ini sampah Mereka kerlingkan mata saat berpapasan Salah apa diriku?? Aku hanyalah ingin berteman dengan alam Membaur dengan suasana kehidupan Mereka mengaanggap aku tidak punya cita cita Mereka anggap diriku penuh dengan dosa Dijalanan aku belajar bagaimana kehidupan yang keras Tapi kau anggap aku ini preman yang tidak punya aturan Atas dasar tato dan tindikan Kau berfikir aku tidak punya masa depan Aku sadar pengetahuan sangat penting Dulu semua ku anggap tidak penting Bahkan aku tidak peduli dunia luar Aku coba sedikit demi sedikit membuka ketertarikanku pada prana luar. Ingin menjadi seorang berguna bagi negara, tapi aku tak punya apa apa Tanpa pendidikan semua sia-sia Aku putuskan untuk mengelana Pergi jauh dari kampung halaman Mengais kertas bergambar, yang disebut uang, untuk mengubah hidupku Untuk mencari sebuah pendidikan Jujur saja diumurku yang masih belia Aku haus akan ilmu Perjalanan dimulai
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • Don't Talk About Money
  • Why Do You Love Me [COMPLETED]
  • 콧노래 From Fit
  • "ARGON" Untukmu Bidadari Hatiku
  • Lelaki Berdada (Ketika Cinta Tak Direstui Tuhan)
  • My Duchess / End
  • PaSuTrik (Pasukan Suami-istri Prik)
  • Senja (Diangkat Dari Kisah Nyata)
  • My Diary

Pernah ga sih? Kalian sekelas sama anak beasiswa yang ganteng banget, pinter banget, tapi juga sombong banget. Padahal dia tuh miskin banget :( Bukannya Irin judging nih, tapi pernah sekali waktu dia sekelompok sama Tama dan maksa buat kerkel di rumahnya untuk tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia, dan Irin baru tahu, ternyata di Jakarta masih ada ya rumah yang base nya dari kayu tanpa di semen. Letaknya dalam gang kumuh yang bau sampahnya kemana-mana. Tapi jujurly, kalian ga bakal lihat Tama seperti lingkungannya itu, walau dia juga ikut milah sampah yang bisa di daur ulang atau bisa dijual lagi sama bapaknya, semua hal ini yang mendukung Tama mendapat beasiswa untuk berkuliah di universitas terbaik, di tempat yang sama dengan Irin, lewat jalur surat keterangan tidak mampu. Tapi Irin sangat kagum sama Tama, bukan karena wajahnya aja yang tampan, walau hidup Tama terlihat jauh lebih susah dari Irin yang turun naik Jazz ke kampus, Tama ga pernah sekalipun terlihat mengeluh, ga kaya Irin yang perasaan hidupnya ngeluh mulu, malah pinter juga masih pinteran Tama, makanya Irin suka sama Tama, kalo kata Irin sih suka aja, ga yang gimana-gimana, tapi Irin tuh jadi suka ngintilin Tama, minta sekelompok sama Tama, minta diajarin Tama, mau makan bareng Tama atau bawain bahkan beliin Tama makanan, nawarin Tama balik bareng, mau main ke rumah Tama, sampai Tama tuh jengah, dan dari situ Irin menyimpulkan Tama sombong berikut berpemikiran sempit. "Kamu bisa ga? Ga usah dekat-dekat dengan saya? Saya ga butuh belas kasihan kamu, Irin. Jangan bawain saya makanan lagi, ga perlu tawarin saya pulang bareng kamu karena saya bisa sendiri. Jangan masuk ke dunia saya karena kamu tidak cocok. Kamu tidak perlu menempatkan diri sebagai saya karena kamu tidak tahu bagaimana kehidupan saya berjalan. Tapi di luar semua itu, saya bisa menjalankan hidup saya sendiri, tanpa bantuan kamu" Tapi, prinsip Irin tetap satu sejak awal. "Kamu lihat aja, kamu bakal balik dan ngemis cinta sama aku!"

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman