OURS
  • WpView
    Reads 2,080,909
  • WpVote
    Votes 95,732
  • WpPart
    Parts 19
WpMetadataReadComplete Fri, Aug 3, 2012
Pesta, minum-minum dan... Elle berusaha mengingatnya, beberapa kali ia mengerjapkan kedua matanya, namun yang ia rasakan hanya sakit di bagian kepalanya. Elle menyenderkan tubuhnya selagi ia membetulkan selimut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Saat itu juga Elle merasakan darahnya berhenti mengalir, jantungnya berhenti berdetak, dan tanpa dapat ditahan, air mata menetes dari kedua matanya yang indah. Elle menjatuhkan tubuhnya, sebelum lengan kokoh Adam merangkuh tubuh Elle ke dalam pelukannya. "Lupain Ditya, untuk aku." Please keep reading this story dear, and don't forget to vomment! thankyouu =D
All Rights Reserved
#9
ours
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • "LOVE AGAIN"
  • Jüst Stop Your Feelings!
  • AFFAIRE D'AMOUR
  • 3. Cerita Etalase dan Tempat Tidur GXG (END)
  • Collateral Hearts - LingOrm ( END )
  • the Story Untold
  • Rindu
  • Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•||

Adeev tersenyum sinis dan mengangkat kakinya. Adeev menginjak luka di pundak laki-laki itu dan menekannya. Suara teriakan kesakitan menggema di kamar hotel. "Dulu mungkin aku terlalu bodoh untuk tidak langsung membunuhnya. Aku juga terlalu baik untuk tidak langsung menembak kepalanya. Tapi apakah kau tahu, karena dia dan dirimu aku menjadi sadar bahwa tidak seharusnya ada belas kasihan untuk siapapun." Laki-laki itu memegang kaki Adeev berusaha mendorong agar tidak menginjak pundaknya. Tapi Adeev justru semakin menekan luka itu. "Dee, apa yang kau lakukan!!" Adeev melepaskan luka tembak laki-laki itu dari injakan kakinya. Dan menatap Exell dalam-dalam tapi tidak lama kemudian para pasukan tim blacklion ikut masuk dan langsung mengamankan kamar hotel itu. Sedangkan ketua tim berlari dan memeriksa keadaan laki-laki itu. Saat tahu target mereka sudah tak sadarkan diri dengan bersimbah darah dan luka tembak. Dia bangkit dan langsung menodongkan pistol ke arah Adeev. ----------------------------------------------- "Ketika cinta harus kalah oleh dendam. Dan ketika dendam harus kalah oleh ketulusan. Saat kau harus mati-matian bangkit dari keterpurukan yang begitu dalam. Berusaha membangun tembok tinggi untuk melindungi dirimu. Menancapkan dendam pada hatimu sendiri agar membalaskan semua sakit yang kau rasakan, tapi tembok itu perlahan menjadi rapuh saat kau sadar dia tak pantas merasakan sakit yang pernah kau rasakan."

More details
WpActionLinkContent Guidelines