DITERBITKAN
###
Ketika melihat sahabatmu mengakhiri masa lajang dan hal itu membuatmu susah bernapas.
###
Sebelumnya terima kasih kepada teman-teman semua atas dukungannya untuk cerita Bila :).
Sebagian naskah ini sudah dihapus karena telah diterbitkan oleh Penerbit Mediakita.
Apabila ingin tetap menikmati cerita Bila dalam versi buku (tentunya sudah direvisi) bisa mencari di Toko Buku Gramedia terdekat atau via olshop.
Halaman : vi + 294 hlm
ISBN : 979-794-497-2
Penerbit : Mediakita
Harga : Rp. 48.000,-
SINOPSIS
Bila menatap nanar kedua mempelai yang ada di depan penghulu, duduk dengan tegap, dia adalah Fadli, sahabat Bila. Seharusnya Bila berbahagia melihat sahabatnya mengawali hidup baru. Iya, seharusnya begitu. Namun, faktanya saat ini, hati Bila sesak melihat prosesi itu.
Bukankah seharusnya Bila yang ada di sana-di sampingnya? Seharusnya Bila yang menghabiskan masa tua bersamanya. Seharusnya Bila yang menjadi mempelai wanita. Sedikit egois memang, tetapi faktanya Bila lebih mengenal Fadli daripada wanita itu. Bila lebih mengenal Fadli luar dalam dibandingkan dengannya. Bila tahu rutinitas apa saja yang dia lakukan setiap hari. Bila tahu apa makanan favorit dan makanan yang dibencinya, bahkan Bila juga tahu berat badannya. Bila tahu segala hal dalam diri Fadli, tetapi mengapa justru wanita yang baru satu bulan mengalihkan perhatian Fadli yang kini menjadi pendampingnya. Kenapa, Tuhan?
---
"Novel dengan tema yang jarang, membuat penasaran untuk dibaca sampai selesai. Pada awalnya, bersimpati pada Bila, tetapi kemudian mengaguminya. Karena tidak mudah mengalami cinta seperti Bila, dan berhasil melaluinya. Worth to read!"- Namarappuccino, Penulis dan Blogger
"Ini cerita yang kaya. Seharusnya kita memang bisa memilih yang kita mau, tapi kadang cinta adalah perihal belajar menerima kenyataan."
- Boy Candra, Penulis "Origami Hati", "Setelah Hujan Reda", dan "Catatan Pendek untuk Cinta yang Panjang"
Gladysa Makmuma Al-Fath. Seorang perempuan yang selalu mengusik ketenangan seorang Imam El. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Galydsa sangat membenci Imam, beda dengan kaum Hawa lainnya yang selalu memuji Imam bagaimana pun keadaannya.
Yang satu kalem, yang satu cerewet.
Yang satu tenang, yang satu emosian.
Yang satu bodo amatan, yang satu selalu nyinyir.
Yang satu adem anyem, yang satu selalu kepanasan.
"SUMPAH! GUE BENCI BANGET! KENAPA PAPI GUE NAMAIN GUE ADA MAKMUMNYA?!"
"Lo emang tercipta buat jadi makmumnya Imam, Sa."
"NAJIS!"
Imam itu alim, tenang, ketua hadroh, pengurus rohis, ketua OSIS. Para fansnya kalo ngeliat dia rasanya udah kayak tiduran di ubin Masjid. Adem banget, apalagi kalo habis ngerjain soal MTK. Beda lagi kalo Gladysa yang ngeliat Imam, bawaannya panas mulu.
"Senyum mulu, sok cool pula! Dih, amit-amit. Sok kegantengan banget! Gantengan juga Papi gue. Alay banget, tuh, cewek-cewek! Dasar tukang caper!"
Hingga suatu kejadian membuat Gladysa ingin hilang dari muka bumi ini, terlebih kedua orang tua mereka amatlah dekat.
××××
"Info! Cewek kalo ultah biar seneng dikasih apa?"
"Qobiltu."
Imam tersenyum kecil. "Lo ngode? Tapi, kan, gue udah ngucap qobul."
"Lo ketagihan gue halalin?"
Satu lagi tentang Imam, cowok itu selalu iseng dengan orang-orang tertentu.
Yang satu tukang ngisengin orang, yang satu tukang salting ala-ala dedemit.
"Ketika jatuh cinta pilihannya hanya dua. Bersatu dalam akad atau berpisah dalam taat."