Story cover for Alleen by Selvianp
Alleen
  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
  • WpView
    Reads 76
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
Ongoing, First published Nov 08, 2017
'kebahagiaan' satu kata yang ingin aku rasakan sejak kecil. Bayangkan, kalian tidak pernah bertemu dengan orang tua kalian sejak kecil dan tidak pernah merasakan kasih sayang keduanya. Sungguh ironis, bukan? Disaat anak kecil lainnya pergi ke taman dengan kedua orang tuanya, aku hanya sendiri sambil membawa boneka yang sudah menemaniku saat bayi itu. 

Yang akan aku ingin tanyakan kepada semesta adalah

"Akankah ada seseorang yang bisa membuatku merasakan 'kebahagiaan' itu?" Akupun tidak tahu jawabannya.
All Rights Reserved
Sign up to add Alleen to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
You may also like
Slide 1 of 10
Sekeping Hati yang Terluka cover
Rumah Tanpa Pintu [ON GOING] cover
coward cover
VERA DENADIS KEYNA cover
365 Lembar [END] cover
Hopeless cover
Lingkaran Cinta [End] cover
NARARYA || END✔️ cover
Bumi ; The Hurt cover
Sempat Punah cover

Sekeping Hati yang Terluka

26 parts Complete Mature

Salahkah kami jika kami merindukan kasih sayang dan perhatian orangtua? Salahkah kami jika kami mencoba menarik perhatian mereka dengan mencoba berbagai cara? Salahkah kami jika pada akhirnya kami mungkin menyerah karena lelah? Mama, papa, dimana kalian saat kami perlu bimbingan kalian dalam meniti tangga kehidupan kamu? Camelia, Claudia, dan Clarisa adalah tiga orang sahabat yang berteman dengan awal yang aneh. Mereka saling menjaga, saling memahami, dan saling membantu. Bagi orang dewasa, mungkin yang mereka alami bukanlah masalah besar. Bagi orang dewasa, mungkin masih ada hal-hal lain yang lebih penting untuk ditangani. Tapi bagi mereka, kaum remaja, ini adalah masalah hidup dan mati. Ini adalah masa depan. Setiap langkah yang diambil, dipenuhi, baik oleh diri sendiri maupun orang lain, semua, adalah mengenai meniti masa depan. Bagaimana jadinya hidup mereka karena pola asuh yang salah dari orangtua? Bagaimana mereka harus melawan tekanan alam bawah sadar saat mereka harus memilih sikap antara hati dan logika tanpa mereka pernah diperkenalkan dengan apa yang baik dan benar? Bagaimana jadinya saat mereka merasa saling membutuhkan namun terpecah oleh satu sosok tampan yang mengoyak kebersamaan mereka? Akankah mereka menemukan akhir yang bahagia seperti selayaknya anak remaja yang lainnya? Atau mereka memiliki jalan lain untuk ditempuh? Salahkah mereka? Atau bukan salah siapa-siapa?