We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.
Alleen

Alleen

  • WpView
    Reads 77
  • WpVote
    Votes 9
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 11, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
'kebahagiaan' satu kata yang ingin aku rasakan sejak kecil. Bayangkan, kalian tidak pernah bertemu dengan orang tua kalian sejak kecil dan tidak pernah merasakan kasih sayang keduanya. Sungguh ironis, bukan? Disaat anak kecil lainnya pergi ke taman dengan kedua orang tuanya, aku hanya sendiri sambil membawa boneka yang sudah menemaniku saat bayi itu. Yang akan aku ingin tanyakan kepada semesta adalah "Akankah ada seseorang yang bisa membuatku merasakan 'kebahagiaan' itu?" Akupun tidak tahu jawabannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Memories in Moon
  • Rumah Tanpa Pintu [ON GOING]
  • Friendzone?
  • Sekeping Hati yang Terluka
  • KEYVANO MARENDRA
  • Eliinaa
  • Rasa Tanpa Kata
  • Hopeless
  • My Boy [ kth ]

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?

More details
WpActionLinkContent Guidelines