Satu hal yang paling aku benci ialah ketika orang-orang membicarakan tentang orang lain berdasarkan asumsi mereka saja. Mereka melihat apa yang bisa mereka lihat, tapi mereka tak tahu apa yang ada didalam sini. Dalam lubuk hati terdalamku. Apa mereka tahu tentang masalah-masalah yang aku hadapi? Perkara-perkara yang aku temui? Apasaja yang telah aku lalui? Namun, untuk apa juga mereka tahu lebih lanjut tentang itu semua? Apa mereka akan menarik kata-kata mereka yang sudah menyakitiku? Apa lantas mereka membantuku? Jawabannya hanya satu, yaitu TIDAK. Itulah mengapa aku tidak mudah bergaul apalagi mempercayai orang lain. Yang ada hanyalah aku, Caramel Bravy Azamta Putri yang selalu dihina, dicaci, dimaki oleh mereka, orang-orang yang sebenarnya sama sekali tidak mengenal siapa diriku. Mengapa mereka tidak mengenal siapa sebenarnya diriku? Jawabannya adalah, karena aku menghilangkan suku ke empat dari nama lengkapku, sejak kejadian lampau saat itu. Benar, Azamta adalah nama kakekku yang dicantumkan kepada setiap anak cucunya. Namun, mengapa aku menghilangkan namanya? Mengapa aku seperti hidup didalam banyaknya masalah? Mengapa aku terus-terusan dihina, dicaci dan dimaki? Jawabannya ada didalam cerita ini. Ceritaku, berjudul Caramel. -Caramel Bravy Azamta Putri-All Rights Reserved
1 part