GiLs [1] Diary of Hilsya

GiLs [1] Diary of Hilsya

  • WpView
    Reads 40
  • WpVote
    Votes 6
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 30, 2017
Aku sudah berjanji kepada ibu, bahwa aku tidak akan pernah berpacaran hingga aku kuliah. Namun ternyata akhirnya aku lupa akan janjiku. Sebenarnya aku sudah sering sekali menolaknya, namun ia tidak pernah berhenti and never give up. Aku harus bagaimana? Apakah ini yang dikatakan orang-orang cinta yang tulus? Aku tidak pernah mencintai seseorang dan tidak pernah tahu apa itu cinta. Namun sekarang ia datang dan melupakan janjiku kepada ibu. Akankah aku mengingkari janjiku? Akankah ibu akan menyetujuiku jika aku berpacaran? Mungkinkah ibu menyetujui jika cintanya itu benar-benar tulus? Tetapi aku ragu akan cintanya. Entahlah, tulus atau tidak itu terserah padanya. Aku tidak akan menyia-nyiakan cintaku yang sangat berharga kepada orang yang salah.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Erlangga
  • Holla, Hiper! (Complete)
  • Mencintai Dalam Diam
  • Another Goodbye (The Other Side 2)
  • Destiny
  • K I E R A ( COMPLETE ) √√
  • Tentang Ashel
  • [✔️terbit] 1. The Girl That Hurt
  • BIGASHA |-END-|
  • Rinai
Erlangga

Erlang selalu berpikir bahwa cinta adalah sesuatu yang bisa ia genggam erat. Bahwa ketika dua orang saling mencintai, mereka akan tetap bertahan, apa pun yang terjadi. Tapi nyatanya, itu hanya keyakinan naif yang perlahan hancur di hadapannya. Pacarnya pergi karena dia sudah menemukan yang baru. Semua janji, semua rencana masa depan, semuanya runtuh dalam sekejap. Erlang hanya bisa menatap kepergiannya, bertanya dalam hati, "Apa aku kurang baik?" Belum juga ia berdamai dengan kehilangan itu, takdir menamparnya lebih keras. Sahabatnya, satu-satunya orang yang mengerti dia tanpa banyak bicara, pergi-bukan karena memilih, tapi karena kehidupan memutuskan demikian. Kali ini, kepergian itu benar-benar untuk selamanya. Tidak ada kesempatan untuk meminta maaf, tidak ada lagi tawa yang bisa dibagi. Ditinggalkan oleh orang yang ia cintai, kehilangan orang yang selalu ada untuknya-Erlang berpikir, mungkinkah ia memang ditakdirkan untuk sendiri? Namun, di tengah kehancurannya, ada satu orang yang tetap di sisinya. Seseorang yang tak banyak bicara, tapi selalu tahu kapan harus mendengar. Sahabat yang tidak pernah menjanjikan apa pun, tapi selalu ada tanpa diminta. Dan dari sana, tanpa Erlang sadari, luka yang ia pikir tak akan sembuh perlahan mulai menemukan cahaya. Cinta yang ia kira sudah mati, ternyata masih punya kesempatan untuk hidup kembali. Apakah Erlang siap membuka hatinya lagi? Atau masa lalu akan terus menghantuinya?

More details
WpActionLinkContent Guidelines