ELEGI
  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Tue, Nov 27, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
Aroma cinnamon yang keluar dari dalam cafeteria itu terasa sangat familiar. Hampir setiap hari saat aku masih menduduki bangku SMA, kamu mengajak ku untuk makan siang ataupun hanya sekedar berbincang ringan. Tempat favorit kita berada diujung cafeteria ini, disana. Posisi yang sangat pas untuk kita berdua singgahi dalam jangka waktu yang cukup lama. Sofa dan dinding kaca besar di sebelahnya merupakan perpaduan yang sangat sempurna dikala hujan, seperti disaat sekarang ini. Aku ingat sekali disaat hari kelulusan mu, kamu mengajak ku untuk makan siang. Katamu, itu merupakan hadiah bagiku yang telah melewati bangku SMA yang banyak orang bilang merupakan masa-masa remaja yang paling indah. Dan seperti di hari-hari biasanya, kamu mengajak aku ke Cafe Aroma-tempat favorit kita berdua. *** Terkadang semenjak kepergiannya aku berpikir, kenapa harus dia?
All Rights Reserved
#562
mellow
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Chaos After You [ COMPLETE ]
  • Three Little Words
  • ROMANCE FROM HIGH SCHOOL
  • ANGKASA [Sequel Sekasa] (COMPLETED)
  • PROM NIGHT HIGH SCHOOL [END]
  • Coffeealona
  • JEVANGAR (Sequel Zayyan Harquel) ✓ Terbit ‼️
  • SKRIPSUIT  ✔
  • Kokolala Love (TAMAT)
  • Love Cologne

Di sebuah cafe sepi di sudut kota, Catherine duduk sendirian, menatap hampa ke dalam secangkir kopi dingin. Bayangan Raymond, kekasih yang telah tiada, menghantuinya tanpa henti. Masa bahagia mereka telah berubah menjadi penyesalan yang dalam. Catherine menyalahkan dirinya sendiri atas keputusan yang diambil karena ketakutan dan ketidaksiapan. Bayangan malam tragis itu membayangi setiap langkahnya, membuatnya terjebak dalam siklus penyesalan. Kehilangan Raymond menghancurkan Catherine, dia merasa terasing dan kesepian di tengah keramaian teman-temannya. Terjebak dalam kehampaan, Catherine terus mencari jawaban atas apa yang bisa dia lakukan berbeda. Di dalam hatinya, tersimpan harapan bahwa suatu hari nanti dia akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang baru. Hingga saat itu tiba, Catherine harus belajar memaafkan dirinya sendiri dan menghadapi bayangan masa lalu yang terus menghantuinya, berharap bisa menemukan cahaya di ujung lorong gelap yang kini menyelubungi hidupnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines