Duan Heirs

Duan Heirs

  • WpView
    LETTURE 77
  • WpVote
    Voti 1
  • WpPart
    Parti 4
WpMetadataReadIn corso
WpMetadataNoticeUltima pubblicazione ven, lug 10, 2026
Sebuah buku diary dari pengasuhnya membuat Giselle melepaskan amarah dan kebencian pada ibu kandungnya. Kebenaran bahwa sang ibu tidak mengetahui keberadaannya, membuat gadis itu luluh. Dengan bantuan kembarannya, Duan Xiao Ming ia kembali bertekad menginjakkan kakinya di Beijing dengan identitas yang berbeda. Tapi, siapa sangka pertemuan dengan mantan kekasih tak terelakkan. Sekarang ia bahkan menjadi bodyguard pria itu. Ma Yu Feng, pria sempurna dengan segala pesonanya,kembali terpikat padanya. Hubungan manis 3 bulan di kota Portofino akankah terulang kembali di Beijing?
Tutti i diritti riservati
#2
maxiaoyu
WpChevronRight
Entra a far parte della più grande comunità di narrativa al mondoFatti consigliare le migliori storie da leggere, salva le tue preferite nella tua Biblioteca, commenta e vota per essere ancora più parte della comunità.
Illustration

Potrebbe anche piacerti

  • The Villain Mother
  • Nala dan Mas Juragan
  • My Celestia [ON GOING]
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Hello, KKN!
  • Be My Wife
  • Pawang Hantu Om Aktor

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Più dettagli
WpActionLinkLinee guida sui contenuti