Story cover for Rain by jaaade-r
Rain
  • WpView
    Reads 3,396
  • WpVote
    Votes 186
  • WpPart
    Parts 15
  • WpView
    Reads 3,396
  • WpVote
    Votes 186
  • WpPart
    Parts 15
Ongoing, First published Nov 27, 2017
Gadis dengan rambut di cepol itu duduk tenang di teras rumahnya sambil melipatkan kedua kakinya keatas, seraya menyeruput kopi hitam kesukaannya. Pandangannya lurus kedepan, menunjukkan bahwa sedang ada sesuatu yang ia pikirkan.

Ia melirik pria yang sekarang sedang berada di sampingnya. Hanya sebentar. Ya, hanya sebentar-mungkin hanya 0,1 detik. Lalu bibirnya mulai bergerak, mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan sekarang, "berarti kita ngga bisa bersama, ya?"

Lelaki yang di ajak berbicara itu tahu betul maksud dari perkataan gadis yang sedang duduk di sampingnya. Tapi ia hanya bungkam, dan menatap gadis itu menitihkan air mata.

"Jangan nangis. Lo tau kan, air mata lo itu kelemahan gue," ucap lelaki itu seraya menghapus air mata gadis itu yang kian menderas.
All Rights Reserved
Sign up to add Rain to your library and receive updates
or
Content Guidelines
You may also like
Felicity [On Going] by ayudiantta
12 parts Complete
BRAKK... "Aww..". Ringisnya. Naya yang belum sepenuhnya sadar berada di atas tubuh orang itu, hanya bisa meringis menahan sakit di dahinya karena terbentur dengan hidung orang yang di tindihnya itu. "Aduh, sakit banget dahi gue, lecet nih kayaknya". Adunya sembari mengusap keningnya yang memerah. "Tapi, kok gue jatuhnya nggak sakit ya". Setelah merasa jika dirinya menabrak seseorang tadi, refleks Naya membuka matanya dan pandangannya langsung bertubrukan dengan mata orang di bawanya, yang 'sialnya malah menatapnya nya dengan tatapan intens dan bibir yang menyunggingkan senyum tipis. Buru buru Naya bangkit dari atas tubuhnya, dan membatu sosok itu berdiri dari jatuhnya. "So-sorry El, g-gue nggak sengaja". Naya meruntuki dirinya yang ceroboh sampai sampai menabrak orang begini. _____________________ "Hm, liat gue". Ujar El dengan tatapan masih tertuju pada Naya. "Ha?". Naya mendongak menatap El, wajah tampannya seakan menghipnotis Naya saat ini. "Lo, cewek waktu itu kan?". Tunjuknya ke arah Naya dengan senyum yang masih tercetak di wajahnya. "I-iya". Ah mengapa Naya merasa dirinya gugup sekarang. El maju mendekatinya yang mengakibatkan Naya refleks memundurkan langkahnya. Mata El seakan menghipnotis Naya, sehingga Naya tidak dapat mengalihkan tatapannya dari mata tajam milik El. "Lo, ng-ngapain". Panik Naya saat tubuhnya terbentur dinding, dan tangan kekar El mengunci tubuhnya. "What it's your name', girl"?. Tanyanya dengan suara serak , yang sialnya' malah membuat jantung Naya kejang kejang. ______________________ _Cerita ini hanya fiktif belaka, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan kejadian. Itu semua hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan_ 💯 karangan sendiri!! _____________________ all picture inside © Pinterest
You may also like
Slide 1 of 10
Kopi & Deadline (On Going) cover
PESAN UNTUK RAYAN cover
JANJI YANG TAK SEMPAT DITEPATI cover
Unmyoung❤ [On Going] cover
Rewrite My Heart [TERSEDIA DI GRAMEDIA] cover
Our Love cover
Felicity [On Going] cover
Aderaga [ON GOING] cover
Badai Tak Berujung [ON GOING] cover
SUARA BIA (TAMAT) cover

Kopi & Deadline (On Going)

6 parts Ongoing

Bukan karena lambat bekerja, Ara lembur lagi bagai kuda. Ara duduk sendiri di cubicle, mata lelah, kopi sachet ketiga di tangan, layar laptop menyala dengan file yang hampir rampung. Ingatkan Ara sekali lagi bahwa kerjaannya 'hampir rampung'. Dia menatap layar, lalu menarik napas panjang, "Aku nggak tahu lagi ini kerjaan atau penyiksaan... Tapi besok pagi harus submit, kalau nggak... ya biasa, dapat teror halus dari atasan." Dulu waktu kecil, Ara selalu mengganggap orang yang pulang kantor sampai pukul 12 malam atau pagi buta adalah orang-orang keren. Iya keren, keren keramnya sebadan-badan. Ara menarik napas panjang untuk kesekian kalinya, "Aku gila deh kayaknya, masa dulu kerjaan kayak ginian aku bilang keren." Di sela kelelahan itu, Ara mengenang tempat ngopi yang pernah dia datangi dua minggu lalu-tempat yang jarang dia datangi sebelumnya, tapi entah kenapa, wajah sang barista masih lekat di kepalanya. Dia pernah bilang ke dirinya sendiri , "Aku nggak punya waktu buat cinta." Tapi sejak ketemu cowok itu... apa kalimat yang digaung-gaungkan Ara mulai retak? GA MENERIMA NAMANYA PENJIPLAKAN YA EGE, NYARI IDE ITU GA MUDAH‼️