Your Voice

Your Voice

  • WpView
    Reads 83
  • WpVote
    Votes 10
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Aug 11, 2020
Danial anggabuana bertemu dengan seorang gadis yang dia anggap bisu bahkan tuli, hanya karena gadis itu tidak menanggapi saat diajak berbicara, Dan keadaan seolah tidak bosan mempertemukan mereka berdua bahkan bukan hanya disatu negara. "nona manis karena kamu menarik hati, aku akan menjawab pertanyaan yang kamu ajukan dengan senang hati" danial bertanya dengan wajah dipenuhi senyuman manis, merasa tidak ditanggapi dia bertanya lagi "apa kamu tidak ingin bertanya bagaimana tipe wanita impian seorang danial anggabuana?,, banyak gadis yang selalu menanyakan itu,, tapi hanya nona manis yang akan aku beritahu" Tapi gadis itu masih diam "nona manisss,, kalo gitu aku saja yang bertanya bagaimana tipe priamu? " ....... semuanya berbeda semua hal tidak sesimpel Kata orang. Syakila dellanova Bahagia itu punya waktu tersendiri, klise memang ungkapannya tapi itu nyatanya,nona manis. Danial anggabuana
All Rights Reserved
#743
roman
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Tingkat Tiga
  • Attention
  • Dear Mia
  • Crazy Marriage
  • Something Different
  • You Can't Hurry Love [Dihapus Sebagian]
  • Probabilitas Berjodoh {Completed ✓}
  • Hati yang Membingungkan
  • MISSION : Ngibulin Sekolah [End - Terbit]
  • Cinta Dua Negara

"Kenapa ya mbak ada orang yang cakep banget gini di dunia?" jawabnya sembari menunjuk ke arahku. Mataku membulat. Bukan karena dia mengataiku sebagai perempuan yang cukup cantik, namun karena perubahan panggilan yang dia berikan padaku. "Mbak?" tanyaku memastikan. Alih-alih menggeleng atau mengelak, Rafka justru langsung mengangguk. "Iya. Mbak Caca." "Ngapain ikut panggil gue mbak?" "Biar lebih deket aja. Lo kan dipanggil mbak sama Keenan." "Ya dia kan adik gue." Balasku sengit. "Ya gue mau ikutan, Mbak. Kedengaran lebih gemes." Aku memutar bola mata jengah. "Gemes-gemes apaan. Lo mau jadi adik gue juga?" "Kalo jadi pasangan lo aja gimana?" "Kalo gitu jangan panggil mbak." Rafka menegakkan tubuhnya. "Lo serius?" "Soal apa?" "Lo mau jadi pacar gue." "Siapa yang bilang?" tanyaku berpura-pura bingung. "Tadi kak. Lo bilang gue jangan panggil lo 'mbak' kalo nggak mau dianggap jadi adik." "Artinya lo mau kan jadi pacar gue?" lanjutnya menuntut jawaban.

More details
WpActionLinkContent Guidelines