One Day
  • WpView
    Reads 105
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 5, 2017
WpInfo
Fiction
Romance
Aku pernah bertanya padanya. "Apakah aku ini salah? Aku mencintai orang yang salah! Cintaku benar benar adalah sebuah kesia siaan!" Dia kemudian menjawab dengan santainya "Cinta itu nggak pernah salah, Ta. Yang namanya cinta itu nggak pernah salah" Dengan mudahnya dia berkata seperti itu, sedangkan dia tidak mengerti bahwa selama ini orang yang selalu kuceritakan adalah dirinya sendiri. Ia bahkan sering sekali mencurahkan segala isi hatinya, entah itu tentang dirinya, orang yang dicintainya, keluarganya juga teman temannya. Apakah dia tak sadar ada orang yang terluka dibalik semua itu? Tak sadarkah dia setiap kali dia bercerita tentang orang yang dicintainya, aku hanya bisa menyembunyikan lukaku semakin dalam? Aku juga sempat bertanya padanya "Aku mencintai teman dekatku sendiri. Yah, bisa dibilang sahabat. Aku tau dia tidak mencintaiku, tapi aku ingin dia melirikku sekali saja. Sekarang, apa yang harus aku lakukan kalau aku mencintai sahabatku sendiri? Sedangkan aku tau kemungkinan besar aku tidak akan berhasil?" Aku masih ingat benar dengan jawabannya. Dengan mudahnya dia mengucapkan hal ini tanpa bisa peka dengan maksud dibalik pernyataanku. "Oh, itu ga bisa Ta. Bener bener ga bisa kalo gitu. Itu artinya kamu yang harus mundur.."
All Rights Reserved
#586
adult
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Full Of Scratches
  • You're Here, But Not For Me
  • Aku Kamu Dan Dia
  • Everything Happens for a Reason
  • Cerita Tentang Kita
  • MsS 2 : Ini Aku [ COMPLETED ]
  • Kamu [SELESAI]✔
  • Hopeless
  • SalFlo

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines