Nikmatnya Bercinta Dengan Sekretarisku?

Nikmatnya Bercinta Dengan Sekretarisku?

  • WpView
    Reads 1,144,085
  • WpVote
    Votes 14,630
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Apr 26, 2018
WpInfo
Fiction
Romance
@cover by Badriklisiansyah Hmmm... aku heran orang-orang menganggapku pendiam. Mungkin karena tak banyak bicara. Sesungguhnya aku hanya belum menemukan lawan bicara yang pas termasuk istriku, walaupun beratus hari sudah kulewati dengannya. Dia sama seperti wanita kebanyakan. Pemalu. Malu-malu tapi mau. Ah... munafik. Ha... ha... Apa aku mencintainya? Mungkin lebih tepat aku butuh dia. Tentang cinta, entahlah. Aku tak pernah begitu merindukannya. Malah aku sangat enjoy jika ada tugas keluar kota. Itu berarti bisa cuci mata dengan bebas, tanpa harus menyakiti perasaannya. Wanita kadang-kadang lebay. Lirik perempuan seksi dikit, katanya jelalatan. Padahal itu kan, rejeki nomplok. La wong yang di rumah pakainya daster yang sudah bolong sana-sini, bau apek karena malas mandi, dan wajah kusam. Hadeh... Apalagi sekarang, sejak melahirkan anak pertama dia semakin gemuk. Ah... makin tak berselera saja aku melihatnya. Berhubung tak ada pilihan lain, ya sudahlah. Kalau ada pilihan lain. Kenapa tidak he... he... Apalagi aku adalah lelaki normal. Masih suka dengan yang kencang, seksi dan liar. Seperti dia, wanita yang saat ini berada di hadapanku.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Please don't get tired of Me
  • My Story
  • SO PRECIOUS (PART COMPLETE)
  • MY HOPE IS YOU (END)
  • Ranting Kering  (END)
  • Emotion Love
  • Merried By Accident (END)
  • Their Marriage Agreement (The Wedlock Series #3)

Pria itu sejak tadi terus terdiam dan terpaku pada seorang gadis dihadapannya. Tak terdengar satu katapun yang keluar dari bibir seksinya, sedangkan gadisnya sejak tadi terus berbicara lantang kepadanya. Mungkin mereka sedang bertengkar, mungkin masalah mereka sepenuhnya kesalahan pria itu. Bukan hanya aku, orang lain yang duduk disekitar merekapun menyaksikan kemarahan gadis itu. Pria itu tampan, tampan sekali. Tapi dia sedikit bodoh menurutku, dia terus diam dan tak menyela gadisnya. Setidaknya menarik gadis itu keluar dari coffee shop sebelum lebih banyak mata yang menyaksikan pertengkaran mereka. Tapi tidak dengan pria itu, dia tetap duduk dan mendengarkan ocehan gadisnya dengan seksama. Pria itu sepertinya pria yang bijak, dia mungkin berfikir bahwa wanita bukan untuk disakiti tapi untuk dihormati. "Kamu udah selesai marahnya? Nanti hilang lho cantiknya. Jangan marah lagi ya sayaang. semuanya salah paham. Dari awal aku pilih kamu dan sampai hari inipun aku pilih kamu..."

More details
WpActionLinkContent Guidelines