Cinta Untuk Almeera (Slow Update)

Cinta Untuk Almeera (Slow Update)

  • WpView
    Reads 77
  • WpVote
    Votes 13
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Jun 11, 2018
"berjalan dibelakangmu membuatku begitu tertatih Dan berpura-pura mencintaimu bahkan tak lebih mudah dari pada itu. Namun, tetaplah sebaik Ali meski aku tidak mencintaimu layaknya Fatimah." Arga ardinata, seorang pria yang ku percayakan atas kepemimpinannya yang ku pilih menjadi teman hidup menuju ridha-Nya. Namun yang maha kuasa seakan tidak merestuinya, dia pergi membawa kepercayaanku. Hingga datang seorang adam menjanjikan sebuah mahligai cinta yang ku dampa. Bukan hanya sebatas janji namun juga pembuktian... Namun sudah kah berakhir kisah ini? Kisah cintaku? ------------------------------------------------------------- KAMU TAK AKAN TAHU ISI DARI SEBUAH BUKU SEBELUM KAMU MEMBACANYA..
All Rights Reserved
#703
ikhlas
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Selepas Senja Pergi
  • DILEMA CINTA [END] COMPLETED
  • My Name Is Erwinda
  • LAST LOVE (Rahsya Naura)
  • Arga ; Repihan Rasa TAMAT (sekuel Arga; Pusaran Sesal
  • Aishiteru
  • Ingkar 🌿|| Ending
  • STILL IM SURE WE LOVE AGAIN

Ardika dan Amira adalah dua orang yang bertemu di antara kebetulan-kebetulan kecil-sebuah kertas yang terbuang, sebuah sapaan sederhana di taman kampus. Tidak ada yang tahu bahwa pertemuan itu akan membawa mereka pada kisah yang lebih panjang dari sekadar percakapan ringan di bangku taman. Sampai Ardika akhirnya mengerti. Bahwa cinta tidak diukur dari seberapa lama seseorang tinggal, tapi dari bagaimana ia tetap hidup, bahkan setelah senja pergi. ... Di persimpangan jalan, Ardika berhenti. Menatap langit yang bersih tanpa awan, hanya bintang-bintang yang berkelip kecil, seolah mengamati langkahnya dari jauh. Ia tersenyum, lalu menutup matanya perlahan. "Cinta itu tidak menunggu untuk dimiliki," bisiknya kepada malam. "Ia hanya ingin dirayakan, meski pada akhirnya ia harus pergi." Sejenak ia diam, membiarkan hatinya yang bicara. "Aku menulis namamu di antara bintang-bintang, supaya aku tahu ke mana harus menatap ketika rindu. Aku bisikkan namamu kepada angin, supaya ia membawanya ke mana pun aku pergi. Aku simpan suaramu dalam detak jantungku, supaya aku bisa mendengarmu. Dan aku akan selalu mencintaimu, seperti angin mencintai laut, seperti malam mencintai bintang, tanpa perlu bertanya kapan harus berhenti, bahkan Selepas Senja Pergi."

More details
WpActionLinkContent Guidelines