Different ways

Different ways

  • WpView
    Reads 605
  • WpVote
    Votes 35
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Sep 8, 2021
Ia harus berbicara sekarang dengan lelaki itu, yang telah menciumnya kemarin di pantai. Inaya berjalan mendekati mirza yang baru saja pulang dari rumah sakit. "Yang kemarin kamu lakukan kesaya itu karena kita terbawa perasaan, karena kita terlalu banyak minum kemarin jadi..-" "maksud kamu ciuman kemarin kita? " potong mirza sebelum inaya menjeleskan semuanya. "iya itu karena tingkat alkohol yang terlalu tinggi, dan kita terbawa oleh suananya maka dari itu... -" "kalau saya mencium kamu karena memang saya ingin? " jawab mirza membuat inaya terkejut lalu,dengan cepat inaya menyembunyikan raut muka terkejutnya itu. "kamu itu kolega saya, kamu teman saya. Tidak ada yang lebih dari itu! " perjelas inaya. "Karena yang membatasi kita itu bukan sebuah bangunan yang kokoh, tetapi hanya sebuah pintu. kamu hanya perlu membuka nya dan aku siap menunggu di depan pintu." -Mirza putra narendra
All Rights Reserved
#867
kehilangan
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • CINTA TAK PERNAH SALAH (SELESAI)
  • 𝘖𝘯𝘭𝘺 𝘠𝘰𝘶 (END)
  • (COMPLETE) UAJC Tiara Baron ( Untuk Apa Jatuh Cinta )
  • Lajur Rasa - [END]
  • Look At Me!!!                                            [Follow Sblm Membaca❤]
  • Double'A Season 2
  • Restore Me | TAMAT✔
  • FLAMBOYAN
  • FRIEND WITH BENEFIT (SELESAI)
  • Apa Kabar, Luka? (TAMAT)

"Aku enggak mau ke Bali," Bima mengerutkan dahi, "Loh, bukannya kamu kemarin bilangnya mau ke Bali," "Enggak ke Bali aja kali, kemarin aku bilangnya mau Budapest, Paris, Hongkong. Kata Bima terserah aku mau kemana aja," ucap Indah mencoba menjelaskan. Bima mengerutkan dahi, "Jadi kamu kemana?," tanya Bima. "Ke Paris lah," Alis Bima terangkat, "Paris itu jauh loh," "Siapa bilang Paris itu deket," "Bukan gitu maksud aku, apa enggak terlalu jauh liburannya mau ke Paris," "Justru jauh itu yang seru, bener-bener liburan," Bima memijit kepalanya, memikirkan liburan bocah kecil itu. Bukannya ia tidak mau ke Paris, tapi saat ini ia sedang sibuk-sibuknya bekerja. Terlebih outlet yang ia tangani baru di buka. Ia tidak bisa meninggalkan begitu saja, karena ia masih belum percaya sepenuhnya kepada staff inti. "Tapi aku lagi banyak kerjaan Indah, kalau kamu liburan ke Bali aku ajak kamu keliling, sekaligus bisa ngontrol kerjaan aku di sini," ucap Bima memberi alasan. "Bima kok gitu sih, kan udah janji mau temani aku liburan kemana aja !," "Ya tapi kamu harus ngerti kerjaan aku juga. Aku masih pantau kerjaan karyawan," "Ih kok gitu," Indah mulai kesal dengan alasan Bima. Padahal laki-laki itu sudah berjanji kepadanya, untuk menemaninya liburan. "Kamu liburan ke Bali aja ya," "Enggak mau," "Bali juga enggak kalah seru dari Paris," "Banyak banget alasan," dengus Indah, karena ia tidak suka dengan orang yang ingkar janji. "Lagian visa dan pasport aku belum diperpanjang," ucap Bima mencoba menjelaskan. "Kalau enggak bisa, bilang aja !, jangan kemarin bilang iya sekarang bilang enggak !," "Ngeselin tau enggak sih !," ucap Indah emosi, lalu mematikan sambungan telfonnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines