Story cover for Invisible by imeldaasp
Invisible
  • WpView
    LETTURE 308
  • WpVote
    Voti 11
  • WpPart
    Parti 7
  • WpView
    LETTURE 308
  • WpVote
    Voti 11
  • WpPart
    Parti 7
In corso, pubblicata il dic 05, 2017
"Kenapa dia begitu tega? Mempermainkan perasaan gue seperti monopoli yang bila tanahnya dijual dapat dibeli lagi. Apa dia tidak tahu apa itu perasaan?"


🔺
🔻


"Bagi gue, melihat lo bahagia sudah cukup. Basi emang. Tapi, apa yang bisa gue lakuin lagi jika perasaan ini nggak terlihat sama lo? Jangankan perasaan, mungkin posisi gue nggak terlihat khusus buat lo."


••• Perasaan yang diuji dengan berbagai rintangan. Ketika ada kalanya kita harus menahan perasaan pada orang yang kita sayangi. Atau kita harus mengungkapkan seperti apa yang kita rasakan. Hanya satu yang dapat menyelesaikannya, yaitu ikhlas. •••
Tutti i diritti riservati
Iscriviti per aggiungere Invisible alla tua Biblioteca e ricevere tutti gli aggiornamenti
oppure
#90menyesal
Linee guida sui contenuti
Potrebbe anche piacerti
Potrebbe anche piacerti
Slide 1 of 9
Memories in Moon cover
Sorry I'm Late [Completed] cover
Diary Zofanya cover
Biarkan Aku Yang Pergi[Sequel End]✔ cover
Epiphany [Completed] cover
Another Me cover
Regrets of Love cover
Hitam Putih Cinta [Terbit Ebook] cover
Hopeless cover

Memories in Moon

13 parti Completa

Gadis ini menundukkan kepala membiarkan kucuran air membelai surainya. Hujan terus menggiringku untuk bermimpi, takala ia terus menyusuri tubuhku dari rambut, hingga ujung kaki. Aku hanya diam, air ini sedikit membuat ku tenang. Aku takut, aku gelisah. Aku ingin berteriak memaki keadaan. Memaki diriku. Hujan, akan kah dirimu marah jika ku maki dengan isak ku? Akankah dirimu menerima rasa takut ku? Trauma ku? Semua kegelisahan ku? Rasa tidak percaya ku akan diri ku sendiri? Adakah yang bisa menerimaku? Bulan, jika kau jadi aku, akankah tetap setegar dirimu? Apakah hujan adalah wujud kekecewaan mu pada diri sendiri? Apakah awan yang menutupi mu adalah caramu untuk menghilang? Akankah menghilang adalah wujud lelah mu? Bersembunyi dibalik awan, apakah itu bentuk ketakutan mu seperti aku takut menghadapi kenyataan? Boleh aku jadi dirimu? Jarang di lihat mata, di nanti sebelum purnama namun di sukai saat sempurna. Bulan, pernah kah kau takut akan cacian manusia yang begitu kejam? Bahkan, bintang yang dapat kau gapai bisa saja mencela mu. Rambu dari mereka selalu menusuk nurani. Hilang akal ku, hilang kepercayaan ku. Masih normalkah jika ku bilang ingin menghilang? Masih terimakah kau jika ku bilang mereka harus lenyap?