Story cover for Invisible by imeldaasp
Invisible
  • WpView
    Membaca 308
  • WpVote
    Vote 11
  • WpPart
    Bab 7
  • WpView
    Membaca 308
  • WpVote
    Vote 11
  • WpPart
    Bab 7
Bersambung, Awal publikasi Des 05, 2017
"Kenapa dia begitu tega? Mempermainkan perasaan gue seperti monopoli yang bila tanahnya dijual dapat dibeli lagi. Apa dia tidak tahu apa itu perasaan?"


🔺
🔻


"Bagi gue, melihat lo bahagia sudah cukup. Basi emang. Tapi, apa yang bisa gue lakuin lagi jika perasaan ini nggak terlihat sama lo? Jangankan perasaan, mungkin posisi gue nggak terlihat khusus buat lo."


••• Perasaan yang diuji dengan berbagai rintangan. Ketika ada kalanya kita harus menahan perasaan pada orang yang kita sayangi. Atau kita harus mengungkapkan seperti apa yang kita rasakan. Hanya satu yang dapat menyelesaikannya, yaitu ikhlas. •••
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Daftar untuk menambahkan Invisible ke perpustakaan kamu dan menerima pembaruan
atau
#90menyesal
Panduan Muatan
anda mungkin juga menyukai
anda mungkin juga menyukai
Slide 1 of 9
Hopeless cover
Sorry I'm Late [Completed] cover
Memories in Moon cover
Another Me cover
Epiphany [Completed] cover
Hitam Putih Cinta [Terbit Ebook] cover
Regrets of Love cover
Biarkan Aku Yang Pergi[Sequel End]✔ cover
Diary Zofanya cover

Hopeless

31 bab Lengkap

[COMPLETED] "Whoever told you that life would be easy, I promise that person was lying to you." --Kondisi dimana tidak memiliki ekspetasi tentang hal-hal baik yang akan terjadi dan juga kesuksesan di masa mendatang. [Definition of Hopeless] Apakah ini tentang kisah cinta masa remajaku? Astaga, bahkan aku tidak yakin tentang cinta itu nyata. Yang aku tahu hanya luka dan luka. Itu saja. Tangisanku bukan tangisan patah hati, lagipula perasaanku sudah mati. Jiwaku diasuh oleh sepi, hingga teman terbaikku hanya rasa sendiri. Setidaknya aku punya mereka, orang yang mengajariku bahwa aku tidak sendirian. Meskipun ada kalanya aku menyerah dan pasrah. Apakah akhir ceritaku ini bahagia? Apakah aku akan terus berkawan dengan tangisan, hingga aku lupa cara untuk mencari kebahagiaan? Aku hanyalah satu dari ratusan orang yang sakit secara jiwa, aku bersahabat dengan sesuatu yang mereka sebut depresi. Hingga yang kukenali hanya keputusasaan pada masa depan diri sendiri.