Story cover for 3 JANUARI by Lilithuriel
3 JANUARI
  • WpView
    MGA BUMASA 23,785
  • WpVote
    Mga Boto 645
  • WpPart
    Mga Parte 100
  • WpView
    MGA BUMASA 23,785
  • WpVote
    Mga Boto 645
  • WpPart
    Mga Parte 100
Kumpleto, Unang na-publish Dec 06, 2017
Andai mata dapat bertutur, berapa kali kita telah berbincang? 
[Kumpulan tulisan pendek yang saya bikin sendiri, kebanyakan isinya mungkin sulit dimengerti. Jangan lupa buka KBBI kalau ada kata yang dirasa asing.
Siapkan waktu dan secangkir minuman. Ibaratnya ini corat-coret, tapi bukan dalam bentuk gambar. Kritik, saran, pesan, dan kesan sangat diterima!]
All Rights Reserved
Table of contents
Sign up to add 3 JANUARI to your library and receive updates
o
#160bukuharian
Mga Alituntunin ng Nilalaman
Magugustuhan mo rin ang
Ayo menepi dulu, sebentar saja. ni awmawindh
6 mga parte Ongoing
[HIATUS] Indira tidak pernah meminta untuk dilahirkan dengan tubuh yang lemah. Tapi hari-harinya kini dipenuhi detak mesin, jarum-jarum tajam, dan dinding rumah sakit yang dingin. Tubuhnya tidak pernah benar-benar sembuh, tapi pikirannya terus mencoba kuat. Karena di sisi lain, ada Ella. Seseorang yang selalu ada di sana, dengan sabar, lembut, dan tak pernah menyerah. Ella yang datang dengan susu kotak saat dunia rasanya hambar, yang menemani sesi cuci darah meski hanya bisa duduk diam sambil menggenggam ujung jaket Indira. Namun semakin hari, semakin terasa: ada batas yang tak bisa lagi mereka pura-pura tak lihat. Indira mulai menjauh, bukan karena tidak cinta, tapi karena takut cinta itu perlahan berubah jadi beban. Ia merasa tak lagi layak untuk dicintai, apalagi saat tubuhnya sendiri terkadang tak sanggup berdiri lebih lama dari lima belas menit. Sementara Ella terus bertanya; mengapa kak Indira menarik diri? Apa salah jika ia ingin tetap di samping seseorang yang ia pilih untuk ia perjuangkan? Di antara rasa sayang dan amarah yang terpendam, keduanya mulai kehilangan arah. Mereka tak pernah bertengkar, tapi diam-diam saling menyimpan luka. Sampai pada akhirnya, sebuah sore yang sunyi di stasiun kecil menjadi saksi bahwa: keduanya duduk berdampingan, tanpa banyak kata. Hanya ada satu kalimat dari Ella, pelan namun penuh makna, "Ayo menepi dulu, sebentar saja." Bukan untuk pergi, bukan untuk berakhir. Tapi untuk istirahat dari semua hal yang memaksa mereka menjadi kuat setiap waktu. Namun yang tidak mereka tahu adalah... kadang, yang kita anggap hanya sebentar bisa jadi jeda terakhir sebelum semuanya berubah. "Aku ngerasa kayak mayat hidup, El..." "Ada aku, Ada Ella... Semuanya akan baik-baik aja, kak. Trust me..." Start ; Fri, May 16, 2025 End ; - By. awmawindh |; Seraphine.daine
Magugustuhan mo rin ang
Slide 1 of 7
Cinta dan Takdir Rania [End] cover
Lara yang tak kunjung USAI ||•ondah•|| cover
Menanti dalam istiqomah  cover
Ayo menepi dulu, sebentar saja. cover
Kitab Romancuk cover
Senandika untuk yang Tak Bernama (GreShan) cover
En Rêve [COMPLETE] cover

Cinta dan Takdir Rania [End]

55 parte Kumpleto

❝Keputusan berat yang harus aku ambil, demi menjagaku juga menjagamu adalah menjauhimu. Bukan karena benci, tapi karena aku mencintaimu. Semata agar kau dan aku tidak terjerumus dalam syahwat yang hina.❞ Begitulah kutipan tulisan yang aku tulis dan kutujukan untuk seseorang, cinta pertamaku. Assalamu'alaikum ... aku Rania Andinadya. Jika kamu bertanya kisah ini mengisahkan tentang apa ... ini tentang perjalananku dalam menemukan hingga harus belajar mengikhlaskan cinta pertamaku. Aku, begitu mencintai dia. Namun anehnya, aku sama sekali tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku padanya. Sampai suatu masa, ketika cintaku mulai terbalaskan, hidayah-Nya perlahan-lahan mengetuk pintu hatiku. Aku pun menyadari, aku dan dia tidak seharusnya sering berinteraksi, demi menghindari syahwat yang hina. Meski telah berhijrah, cintaku kepadanya masih sama. Dalam diam, aku tetap mencintai dan mendo'akan kebaikan untuknya. Tapi, siapa sangka takdir malah berkata lain. Setelah menjauhinya sebab cinta, ia telah menemukan pujaan hatinya. Lantas aku berusaha mengikhlaskan, meskipun ikhlas adalah suatu hal yang teramat pelik. Dan satu pertanyaan terus mengusik pikiranku ... mampukah aku mengikhlaskannya?