They Call Her Julia

They Call Her Julia

  • WpView
    MGA BUMASA 26
  • WpVote
    Mga Boto 1
  • WpPart
    Mga Parte 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeHuling na-publish Fri, Dec 8, 2017
Hidup ini bukanlah hitam dan putih saja. Julia hidup diantara keduanya. Ketika masa lalu yang kelam bertemu dengan cinta yang tak terduga. Mengubah luka menjadi kekuatan, dan duka menjadi pengharapan. Mampukah Julia bangkit dari keterpurukan dan mengejar cintanya? * Warning! Trigger alert! * Might contain potentially distressing theme or topic
All Rights Reserved
Sumali sa pinakamalaking komunidad ng pagkukuwentoMakakuha ng personalized na mga rekomendasyon ng kuwento, i-save ang iyong mga paborito sa iyong library, at magkomento at bumoto para lumago ang iyong komunidad.
Illustration

Magugustuhan mo rin ang

  • DALAM DETAK (SELESAI)
  • MY MOODBOOSTER FROM AFRICA
  • Lily of the valley
  • Desire (END)
  • 𝐀𝐋𝐈𝐕𝐄
  • 𝑨𝑹𝑨𝑲𝑯𝑨 [TERBIT]
  • Rumah Tanpa Jendela (HIATUS)
  • ADDICTED [His Silence, Her Obsession] (TERBIT)
  • AGASTYA [ END ]
  • Saat Cinta Tak Terucap

[ CERITA DIPRIVASI ] Semua orang berlomba bergaya, bekerja, berkomunikasi demi mendapatkan satu rasa yang disebut; Cinta. Hingga lupa pada takdir yang tak selalu menuruti kehendak, sebab ada empunya. Kalau saja cinta selalu seindah bait puisi milik Penyair ternama, mungkin perjuangan benar tak ada artinya. Namun, lagi-lagi, konspirasi alam tak pernah memiliki jadwal. 'Ia' berputar semaunya. Mengitari manusia yang tanpa tahu malu terus berangan. Atau ... justru mendukung mereka para pesimis. Apakah ketika mencintai, kau selalu siap dengan patah hatinya? Hei, kedua hal itu adalah paket wajib yang tak akan bisa kau pilih salah satu. Percayalah, senikmat apa pun cinta yang kaurasa hari ini, kelak alam akan memintanya untuk menghancurkanmu. Menjadi kepingan raga, rasa yang hancur dan kau menderita. Apakah menakutkan? Tidak. Karena manusia selalu merasa dirinya yang terhebat. Berpikir mampu bertahan dalam duka yang teramat. Berangan mampu mengubah cinta menyiksa menjadi bahagia penuh euforia. Bukankah manusia itu makhluk paling serakah? Ia tidak pernah berpikir, kalau segala sesuatu memiliki batas. Kecuali, Sang Pencipta. Maka, beginilah ritmenya; Cinta-->Bahagia-->Jenuh-->Luka-->Mengakhiri/Memperbaiki? Selamat Membaca! Salam, Curious_ Ditulis-Diakhiri: Maret 2017

Karagdagang detalye
WpActionLinkMga Alituntunin ng Nilalaman