3
  • WpView
    LECTURES 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Chapitres 1
WpMetadataReadEn cours d'écriture
WpMetadataNoticeDernière publication sam., déc. 9, 2017
WpInfo
Histoires vraies
Ketika sebuah keputusan mulai ku ambil. Ku tinggalkan semua dunia yang fana ini. Ku tinggalkan segala kebodohan yang ada. Aku lebih memilih maju mengejar Ridha RabbKu. . Sulit... Memang sulit namun akan lebih sulit jika diri masih berdiam dalam sebuah jaman Jahiliyah. Tak masalah karena ada Allah yang selalu menjaga. . . Tak banyak yang suka? Banyak yang menghina? Untuk apa memikirkan mereka yang tak suka. Sekalipun dihina aku bangga karena aku dihina pada sebuah jalan kebenaran. Jika aku harus memilih dihina dalam kebenaran atau disayang dalam kemungkaran, maka aku akan memilih dihina dalam kebenaran. . Dengan segala hijrah ini. Segala keputusan ini. Akan mengajari arti kesabaran, memaafkan, dan mendoakan. Kesabaran dari segala omongan di luar sana. Memaafkan mereka yang menyakiti hati. Dan mendoakan mereka supaya Allah memberi hidayah pada mereka. . . Aku yakin dan aku mampu! Karena ada DIA yang menguatkan. .
Tous Droits Réservés
Rejoignez la plus grande communauté de conteursObtiens des recommandations personnalisées d'histoires, enregistre tes préférées dans ta bibliothèque, commente et vote pour développer ta communauté.
Illustration

Vous aimerez aussi

  • Ternyata Takdirku adalah Kamu
  • Bitch Daughter (Putri Kupu-kupu Malam) SELESAI✓
  • ARIESKA || Sweet Family [ ✓ ]
  • 𝐃𝐈𝐀𝐍𝐓𝐀𝐑𝐀 𝐊𝐄𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈𝐀𝐍 [✓]
  • Jodoh Pilihan
  • Daud (END)
  • Raden Kian Santang -Two Lives-
  • Informed Consent

JANGAN LUPA FOLLOW YA... terimakasih sudah mampir Ada cinta yang tidak perlu diumbar, cukup diam-diam mendoakan dari kejauhan. Karena kadang, mencintai yang paling dalam adalah saat memilih untuk menjauh. Aku, Cilla, gadis biasa yang sebentar lagi akan memulai hidup baru di UIN Rafah. Di usia delapan belas ini, hidupku seperti perjalanan kereta yang tak pernah berhenti di stasiun yang sama dua kali. Termasuk stasiun bernama Arsan. Dia pernah singgah. Pernah menjadi alasan senyumku setiap pagi. Pernah menjadi orang yang paling aku percaya. Tapi kami memilih pergi. Bukan karena tidak saling mencintai, tapi karena tahu: terlalu dekat bisa membuat segalanya salah arah. Kami memilih menjaga, meski harus saling menjauh. Dan kini, setelah waktu membawa kami ke dunia yang berbeda... Aku masih menyebut namanya dalam sujud terakhirku. Sementara aku tak tahu, apakah dia juga menyebut namaku saat langitnya mendung dan hatinya sunyi. Mungkin kami sedang menguji takdir. Atau... mungkin takdir sedang menguji kami. Karena jika benar cinta ini suci, maka tak perlu digenggam erat untuk dimiliki. Cukup dipercayakan kepada Allah. Dan jika suatu hari aku kembali bertemu dengannya, aku ingin bertanya satu hal: "Masihkah kamu menganggapku takdirmu, seperti dulu?"

Plus d’Infos
WpActionLinkDirectives du Contenu