Sekeping rasa itu yang mendorong hatinya untuk tetap menanti, meski sebenarnya ia tau, penantiannya akan tiada berarti. Hal itu juga yang membuatnya untuk tetap berjuang, meski ia tau, ia hanya berjuang sendirian.
Dan ketika kata lelah menghampiri, sosok yang dinantipun mulai terlupakan.
Dan di sanalah, kisah mereka dimulai...
"Kak, makasih udah pernah ada buat gue, maaf kalo gue belum bisa jadi yang terbaik buat lo. Gue harap, lo bahagia sama sahabat gue," ucap gadis itu lirih, berusaha agar air matanya tidak jatuh.
"Fa, gue masih sayang sama lo, gue nggak pernah benar-benar ngelupain lo, semua yang gue lakuin punya alasan Fa. Kasih gue satu kesempatan lagi," pria yang mengenakan seragam putih abu-abu itu menahan lengan gadis yang kini di hadapannya. Tersurat di matanya bahwa ia benar-benar tulus pada gadis itu. Tak tertahan lagi, sang gadis tak dapat menahan bendungan air matanya, tangisannyapun pecah seketika. Ia merebahkan tubuh mungilnya di atas dada bidang pria itu, memeluknya erat dan menumpahkan semua air matanya yang ia tahan selama ini "Maaf kak, gue nggak bisa balik sama lo. Mungkin ini yang terbaik buat kita." ucapnya lagi sambil melihatkan senyum di balik air matanya.
Gadis itupun berlari menjauhi pria yang kini hanya bisa mematung di tempatnya.
Akankah kisah mereka hanya sampai di sini? Atau justru mereka akan dipertemukan di masa depan?
Let's go to read my story 😇
◀▶◀▶
[SLOW UPDATE]
Mungkin, kali ini dia hanyalah pendatang. Tapi, bagaimana jika suatu hari nanti dia lah yang menjadi penopang?
________
Cerita ini bermula ketika Ghea Andara, cewek pecinta seni yang berniat membongkar kasus kematian sahabatnya, Clara Anindita.
Setelah kepindahannya dari SMA Pelita ke SMA Angkasa, membuat kehidupan Ghea semakin rumit. Terutama tentang kisah cintanya.
Diluar dugaannya, orang yang selama ini ia cari ternyata bersembunyi di balik sifat baiknya. Apa yang dirasa baik, nyatanya tak sebaik apa yang dipikirnya selama ini.
Mustahil kah jika siapa saja bisa menjadi pelakunya?
***
"Gak mungkin dia..," lirihnya seraya membekap mulutnya tak percaya.
"Tapi kalo kenyataannya seperti itu, kita gak bisa apa-apa,"
"Gak!"
"Ini mustahil!"
"Gak mungkin!"
"Bagaimana bisa?!"
Ia hanya bisa menatap gadis di depannya ini dengan wajah sendu. Kini, jiwa itu seolah rapuh. Seakan tak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang berhasil singgah di hatinya, ternyata adalah orang yang membuat nyawa sahabatnya melayang.