Kita Tertawa

Kita Tertawa

  • WpView
    Reads 2,442
  • WpVote
    Votes 172
  • WpPart
    Parts 60
WpMetadataReadComplete Mon, Jul 16, 2018
Banyak hal yang tidak bisa dijelaskan dalam alam semesta. Hubungan perkawanan antara aku dengan Tara adalah salah satunya, dan itu adalah hal yang mewakili kompleksitas alam semesta ini. Dia adalah wanita, dan aku adalah laki-laki. Kami sudah berkawan selama belasan tahun. Selama itu juga tidak ada cinta dalam hubungan ini, jika cinta dimaksudkan di sini adalah ketertarikan antara lelaki dan perempuan yang dimanifestasikan dengan rayuan, pengungkapan cinta, berpacaran, bertengkar, lalu putus, atau menikah. Lelaki juga bisa berkawan dengan wanita dengan menghilangkan batasan genre. Hingga, pada suatu pagi yang cerah di bulan Agustus, Tara muncul di depan rumah. Lalu menyeretku untuk melakukan sebuah perjalanan aneh yang bagiku tidak masuk akal ke arah timur. Aku tidak bisa menghindar dan terpaksa mengikutinya dengan berat hati. Kami bukanlah sepasang manusia yang anti-sosial, hanya menutup diri terhadap interaksi sosial dengan manusia atau kelompok lain. Dalam perjalanan ini kami bertemu, berkenalan, dan berbicara panjang lebar dengan sedikit orang. Saat ada yang ingin berinteraksi dengan kami, cukup kami layani dengan sedikit senyum, basa-basi sekadarnya dan mengucapkan selamat tinggal. Bagi Tara, perjalanan ini penting, bagiku perjalanan ini konyol.
All Rights Reserved
#2
kotakecil
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Truth After Love, Kiara and Zaki (Tamat)
  • Dear of Natasya
  • SERENDIPITY : a Fact
  • If we can together
  • Hanya Sebatas Teman?
  • Relationship
  • AZZKARA
  • Dinamika Ditengah Arus Waktu
  • Infused Heart
  • Menyimpan Rasa (END)

sebelum baca, FOLLOW dulu gasii??? "Sayangkuu, cintakuu. Gimana dengan hari ini, hm? Are you happy?" "Seru dong, senang karena ada kamu, Ka. Hehe." Dulu, setiap percakapan kecil seperti itu mampu menyulap hariku jadi lebih indah. Tapi semua itu kini tinggal kenangan. Hubungan yang manis dan penuh tawa itu akhirnya harus berakhir, bukan karena cinta kami memudar, tapi karena kenyataan terlalu pahit untuk ditelan bersama. Aku masih mencintaimu. Masih ingin mendekat, masih berharap bisa kembali. Tapi jarak ini bukan lagi tentang raga-melainkan tentang takdir yang tak mengizinkan kita bersatu. Cinta kita besar, tapi tidak cukup untuk melawan kenyataan yang tak berpihak. Banyak halangan yang kucoba lalui demi kamu, demi kita... tapi ternyata semesta punya rencana lain. Kini, aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Ingin kembali, tapi tak bisa. Ingin melepaskan, tapi hatiku belum rela. Satu kejadian itu-satu hari yang mengubah segalanya-telah memutus tali yang tak terlihat namun sangat kuat mengikat kita. Jika bukan karena kejadian itu, mungkin aku masih tersesat dalam hubungan yang samar: ada, tapi tak punya peran. Dulu aku memegang peran utama di hidupmu. Sekarang? Bahkan untuk menjadi figuran pun aku tak lagi layak. Kita pernah sangat dekat, tapi kini aku tahu... melepaskan sesuatu yang sudah terasa seperti rumah tidak akan membuat segalanya membaik. Bahagia tidak selalu datang setelah menjauh. Dan seringkali, hubungan yang tampak sempurna dari luar menyimpan luka yang tak pernah terucap. Aku tak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini. Tapi yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Meski begitu, kenangan itu-kenangan tentang hari itu-masih terpatri jelas di pikiranku. Hari saat aku sadar... cinta saja tidak cukup.

More details
WpActionLinkContent Guidelines