Bumbu Cinta

Bumbu Cinta

  • WpView
    Reads 60,552
  • WpVote
    Votes 4,693
  • WpPart
    Parts 23
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jul 17, 2025
Lama-lama aku jadi risih dengan panggilan 'adek'. Meski panggilan itu terucap natural dan terdengar biasa saja setiap bang Hadi memanggilku. Masalahnya bukan pada bang Hadi, tetapi pada orang-orang yang menjadi salah paham. Kebanyakan mengira kami adalah saudara kandung alias 'abang adik'. Demi apa pun, itu sering kali terjadi. Mau diluruskan juga, aku tidak berani. Aku takut nada bicaraku terdengar keras dan dikira tak sopan saat berhadapan dengan teman bang Hadi. Padahal suaraku memang begini. Jadinya aku sering bungkam dan membiarkan saja ketika teman-teman bang Hadi mengira aku adiknya. Bang Hadi sendiri tak pernah aku lihat meluruskan kesalahpahaman ini. Menyebalkan memang! Awas saja kalau dia ketahuan mengumbar diri sebagai 'perjaka', eh maksudku sebagai pria lajang. Jika itu terjadi, tak akan aku biarkan dia masuk ke kamar kami selama sebulan!
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • I'm The Lucky One
  • Membawa Lari Sang Bidadari
  • The Lawyer's Wife
  • NAIK PELAMINAN [TAMAT LENGKAP]
  • because Alloh
  • Iiiiiih, Mas Kahfi!
  • haris
  • Silent, Please! (Re-up)

Kadang gue menyesali keputusan gue untuk kuliah adalah hal benar. Bukan hanya dari beratnya harus belajar untuk menuntut ilmu dijenjang ini. Tapi gue juga banyak belajar tentang pelajaran hidup saat gue malah hidup dikelilingi banyak cowok ganteng famouse kampus, temen-temennya Kakak gue. Ditambah lagi, salah satu dari mereka yang terang-terangan pengen gue jadi miliknya. Padahal dia tahu betul larangan yang Kakak gue terapkan untuk tidak menjalin hubungan cinta-cintaan sama gue yang berstatus adiknya. Tapi entah saking beraninya atau memang sengaja menantang, dia melanggar larangan itu. Sedangkan gue malah menaruh hati sama cowok yang gue temuin lagi makam sendirian dikantin kampus. Kesalah fahaman yang terjadi saat kami bertemu pertama kali, membuat kami terus saja terlibat satu sama lain. Gue takut menyakiti hati orang lain, tapi gue juga nggak mau menyakiti diri gue sendiri. Lalu siapa yang salah disini? Sehun? Gue? Yixing? Atau perasaan yang tak bisa dikendalikan ini?

More details
WpActionLinkContent Guidelines