Crossroads #TrueShortStory

Crossroads #TrueShortStory

  • WpView
    LECTURAS 6,096
  • WpVote
    Votos 957
  • WpPart
    Partes 11
WpMetadataReadConcluida mar, jul 16, 2019
[COMPLETED] "Setidaknya persimpangan jalan itu tau, kalau aku selalu liatin kamu dari jauh." 🎀🎀🎀 Aku akan bercerita sedikit tentangnya. Dia Bima dan dia bodoh. Meskipun setiap kami bertemu, ia akan bilang; "Acha! Gue Bima dan gue ganteng!" Seperti yang aku bilang, dia adalah laki-laki paling bodoh yang pernah aku temui. Maaf kalau kalian adalah salah satu penggemarnya tapi, aku tidak bercanda. Hingga suatu saat ia mengajakku ke suatu tempat. Tempat yang dipenuhi dengan bunga dan daun kering yang berguguran. "Acha, lo masih inget gue?" Tanyanya. "Kamu gila. Tentu aku ingat. Kita bertemu di toko buku itu. Aku belum pikun, Bima." Ia tersenyum kecil. "Mulai sekarang, jangan inget gue lagi ya?" Dan sejak saat itu, aku melupakannya. Cover from Pinterest ❤
Todos los derechos reservados
#934
trueshortstory
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • Coffee Of My Life
  • Not Perfect (COMPLETED)
  • Adore Him [Completed]✔
  • AXELLE [END]
  • Amora[Lengkap]
  • MY OLD FRIEND [END]
  • TWENTY ONE [SELESAI]
  • azrina | new version
  • Seperti Oasis [Completed-Revisi]
  • Nerd Boy & Absurd Girl [END]

Sebuah kisah cinta, kisah persahabatan dan kisah keluarga. Kisah yang menceritakan pahitnya kehidupan saat menjadi dirinya. Dia gadis bodoh yang semakin hari terdesak keadaan. Menjerit meminta tolong pada angin yang tak menghiraukannya. Apa mungkin kalian percaya pada keajaiban sebuah kesetiaan dalam penantian panjang? Ibunya mungkin suatu saat akan meninggalkannya dan pria itu mungkin bukan cinta sejatinya, tapi di sudut ruang dalam setitik cahaya yang menjadi satu-satunya harapan, ia mencoba mengukir akhir kisah yang manis. -- Sakit. Rasanya sakit sekali. Aku seperti menggores tubuhku dengan pisau yang kugenggam sendiri. Namun sebelumnya tanpa kusadari, aku terlebih dulu menikamnya. Lalu, bagaimana cara menolongnya sementara tangankupun tak sanggup lagi bergerak? Apa permintaan maaf masih bisa ditoleransi? -COMPLETED-

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido